Disrupsi Industri Kesehatan: Korban Susulan Teknologi Digital Pasca Ojek Pangkalan

TECHNOLOGY

 

The doctor of the future will give no medicine but will interest his patients in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease” – Thomas Edison.

Dimasa lampau, karena kurangnya pengetahuan, orang dengan mudah percaya dan takut akan apa yang mereka tidak mengerti. Sesuatu yang tidak mengerti dianggap misteri, magis, atau kutukan yang Tuhan turunkan ke bumi untuk membuat manusia jera melakukan kesalahan.

John Styth Pemberton, seorang ahli farmasi yang pertama kali memperkenalkan Coca Cola tanggal 8 Mei 1886 mengklaim bahwa campuran sirup karamel buatanya adalah obat paten penyembuh batuk. Sejak itu ketenaran Coca Cola sebagai obat batuk terus dicoba oleh berbagai kalangan. Minuman berkaborasi yang dijual 5 sen per gelas yang mulanya hanya terjual 9 gelas per hari terus melenggang hingga penjuru dunia. Kepercayaan khalayak Amerika terhadap jargon penyembuh batuk saat itu sungguh menyihir. Ada sisi magis dalam penyebaran awal Coca Cola. Kini Medis modern membuktikan bahwa Coca Cola bukanlah penyembuh batuk.

Masyarakat Batak Toba meyakini Debata Mulajadi Na Bolon adalah Sang Pencipta. Sebagai Sang Pencipta, Debata Mulajadi Na Bolon bukan hanya menciptakan manusia dan alam sekitarnya, Debata Mulajadi Na Bolon juga menciptakan sebuah kitab panduan untuk kesehatan agar manusia bisa hidup sehat dan bisa sembuh dari penyakit. Orang yang paling mengetahui isi Kitab Pengobatan ini disebut sebagai Sibaso, Sibaso adalah Datu (Dukun perempuan).

Baik claim Coca-Cola sebagai obat batuk dan jampi-jampi sang dukun tidak memiliki bukti empirik yang dapat menjadi rujukan kongkrit dalam klaim yang diumumkan. Masyarakat modern ingin sebuah bukti empirik dan rujukan kongkrit yang dapat dilihat secara berulang ulang dan konsisten

Kini, masa yang dianggap sudah modern, profesi penyembuh ada pada dokter. Dokter yang berarti guru dalam bahasa Latin adalah seseorang yang memiliki pendidikan dan pelatihan khusus ilmu medis modern untuk menyembuhkan orang sakit  

Perkembangan pemeriksaan penyakit oleh seorang dukun berupa tafsiran telah lama ditinggalkan orang, walapun masih ada yang menggunakan pendekatan jampi-jampi, masyarakat kini lebih memercayai sebuah diagnosa yang dikeluarkan oleh seorang dokter.

Lalu apa yang (mungkin) akan terjadi di masa depan? Bisa jadi telaah bidang kedokteran dikerjakan oleh teknologi. Tahun 1997, manusia telah memimpikan pertukaran DNA setiap orang melalui cara yang mudah. Nasib orang bisa saja berubah setiap saat jika dia telah berhasil menukar DNA-nya dengan DNA orang lain. Apa yang terjadi pada film karya Andrew Niccol ini hampir tidak jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Charlie Kaufman dalam film Eternal Sunshine of the spotless mind tahun 2004, dimana setiap orang bisa pergi ke perusahan yang secara khusus bisa menambah dan menghapus ingatan pada otak setiap orang dan melakukan format ulang otak layaknya hard disk drive pada komputer.

Dhealth-956x956

Bila teknologi sudah semudah itu melakukan hal-hal yang pernah dimimpikan para sutradara film puluhan tahun lalu, akan kah pekerjaan dokter digantikan oleh teknologi? Masih perlu kah si pesakit merangkak ke rumah sakit atau ke tempat praktek dokter bila semuanya sudah bisa diselesaikan melalui handphone pintar? Atau gua membayangkan ada semacan chip dalam tubuh yang secara berkesinambungan memonitor seluruh perubahan dalam tubuh sehingga informasi seluruh tubuh tersajikan sebagai langkah antisipasi akan apa yang bakal terjadi. Wallahualam.

Pemikiran Thomas Edison hampir seratus tahun lampau (1847-1931) yang gua tulis sebagai pembukaan tulisan ini, mungkin dugaan dia akan terjadinya pengebirian fungsi dunia kedokteran, cepat atau lambat, entah beberapa generasi setelah kita. Ketakutan dia akan datangnya suatu masa dimana orang-orang di muka bumi yang semakin pintar akan menggerus kenyamanan profesi kedokteran. “The doctor of the future will give no medicine but will interest his patients in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease”.

Teknologi digital dan semua peradaban yang dibawa sudah tak terbendung, tidak  ada yang bisa menghalau bola salju teknologi digital ini, ia telah banyak merenggut kesenangan orang, mulai tukang ojek, tukang majalah, tukang cetak, dan akan kah monster yang dicintai banyak orang ini juga akan menggerus kenyamanan para dokter?

Ah! Mungkin gua ajah yang terlalu berlebihan menanggapi pemikiran om Thomas. Berhayal terlalu jauh tentang Internet Of Things dan terlalu cepat menilai bahwa semua hal, termasuk dunia kesehatan juga akan diambil alih oleh digital.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s