Situs Muaro Jambi, Kampus Budha yang Telantar di Jambi

CULTURE

Pergilah ke Muaro Jambi di Sumatera, kau akan menemukan puluhan candi peninggalan Budha yang terbengkalai. Ada 8 candi yang sudah digali dari dalam tanah namun masih puluhan yang terkubur.

_MG_5743

Menapo atau lokasi candi di dalam tanah yang masih dalam proses penggalian. 

Tentu bukan cuma candi yang bakal kau temui di lahan seluas 3.981 hektar itu. Sisa kehidupan yang pernah menempel di tanah itu sebagian masih terlihat wujudnya. Kanal-kanal kuno yang dibuat untuk transportasi dan mobilisasi bahan bangunan candi yang terhubung oleh Sungai Batang Hari adalah bukti yang mereka tinggalkan.

Penghuni Kuno

Salah seorang penjaga candi yang saya temui ketika mengunjungi komplek bangunan candi itu, Februari 2018 lalu, menukil bahwa lingkungan seluas itu digunakan untuk menuntut ilmu agama Budha, bukan hanya oleh orang Indonesia. Beberapa murid dari India, Tibet, Cina, dan beberapa penganut Budha lain di Asia juga belajar disini, hal ini dibuktikan oleh mata uang dan beberapa cindera mata yang ditemukan.

_MG_5660

Siapa yang membangun dan siapa yang mengelola komplek seluas itu? pak Herman  seorang petugas komplek candi menjelaskan dari cerita yang dia dengar turun temurun, dulunya komplek itu dijadikan tempat menuntut ilmu agama Budha dari berbagai negara, mereka yang datang tidak hanya mempelajari ilmu agama akan tetapi mereka juga ikut membangun tempat ini.

Hal itu terbukti dari kanal-kanal yang sengaja dibuat untuk memudahkan distribusi beberapa arca dan bebatuan yang dikirim dari Kamboja dan bangsa-bangsa sekitar yang ingin ikut membangun komplek candi, sebagaian besar murid itu lama di komplek candi ini.

_MG_5753

Salah satu kanal kuno yang dijadikan penduduk setempat untuk mencari ikan

Saat mendengar pak Herman  asik bercerita, saya membayangkan kehidupan di abad 7 ketika komplek ini aktif digunakan. pak Herman  kembali menceritakan tentang menapo atau gundukan tanah yang masih terdapat candi didalamnya.

Kenapa Ditinggalkan

Membayangkan ramainya kehidupan di komplek candi dan bangunan candi yang terbentang pada area seluas 8 kali komplek Candi Borobudur itu ditinggalkan begitu saja, saya gatal sekali untuk bertanya kepada pak Herman  kenapa mereka begitu saja meninggalkan komplek candi.

Banjir bandang yang sangat besar jelang abad 12 meninggalkan dampak penyakit kolera yang hebat ketika itu. Menurut keterangan pak Herman, beberapa murid dan guru yang ada disini tidak tertolong lagi meninggal di tempat ini, namun beberapa yang belum terkena dampak endemi itu malarikan diri, mungkin mereka balik ke tempat asalnya.

Semua yang pernah mereka bawa, termasuk cindera mata baik yang terbuat dari bebatuan dan emas mereka tinggalkan disini. Peninggalan itu masih tersimpan baik di Museum Jambi, beberapa replika ada di Rumah Penyimpanan di Muaro Jambi.

This slideshow requires JavaScript.

Komplek candi yang telah mereka bangun dan tempat mereka hidup selama kurang lebih 500 tahun mereka tinggalkan begitu saja hingga alam melalui mekanismenya melindungi peninggalan ini. Melalui tanah, dedaunan, dan pohon-pohon besar termasuk pohon-pohon duku ikut mengubur komplek ini selama ratusan tahun.

Penemuan  

Orang Eropa pertama yang mendeskripsikan Muaro Jambi adalah surveyor Inggris, Kapten SC Crooke, yang mengunjungi daerah itu pada tahun 1820. Dia mencatat secara sepintas bahwa tidak ada (arca) yang ditemukan kecuali sosok kecil yang termutilasi dari (patung) gajah, dan kepala berukuran penuh terbuat dari batu, memiliki rambut keriting. (Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia oleh Natasha Reichle, Bab 3 halaman 64)

Sumber lain menyebutkan, demi kepentingan pertahanan militer, pemerintah Inggris mengutus seorang letnan SC. Crooke untuk menelusuri Sungai Batanghari di Sumatera. Saya tidak menemukan literatur yang menyebutkan hasil dari pemetaan ini kecuali penemuan serpihan-serpihan batu bata merah masiv di pada kanal-kanal sungai Batanghari oleh S.C. Crooke tahun 1820.  

Penggalian oleh pemerintah Indonesia baru dilakukan pada tahun 1975. Arca yang ditemukan tidak hanya berasal dari beberapa wilayah luar Indonesia, beberapa arca yang terdapat di Situs Muaro Jambi juga dikirim dari Singosari  dan Thailand (Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia oleh Natasha Reichle, Bab 3 halaman 67).

Terdapat banyak sekali sisa-sisa reruntuhan Situs Muaro Jambi, baik yang masih tersimpan di rumah penyimpanan di Muaro Jambi dalam bentuk replika maupun arca asli yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta dan Museum Jambi. Beberapa arca itu sering dipamerkan di negara-negara Eropa.

Apa yang menjadi temuan SC. Crooke tahun 1820 itu adalah cikal bakal terkuaknya sebuah peradaban yang berlangsung lama di Muaro Jambi. Sayangnya anggapan pak Herman  bahwa orang-orang yang dulu menetap di Situs Percandian Muaro Jambi ngga punya bukti kuat kalau mereka meninggalkan komplek itu kerena banjir dan endemi kolera. Saat saya tanya apakah pernah ditemukan tulang manusia sebagai bukti bahwa pernah ada sekelompok orang yang mati di tempat itu? menurutnya belum pernah ditemukan.

Kenapa ditelantarkan?

_MG_5773

Candi Gumpung, menurut petugas setempat bila tanah pada area itu digali lagi sekitar 6 meter, baru bisa ditemukan dasar candi, jadi mereka belum menggali sampai titik terbawah kehidupan orang-orang pada waktu itu, dengan dalih tidak ada area untuk membuang tanah galian.

7 jam berada di area komplek percandian, banyak sekali pertanyaan yang ingin saya tanyakan, entah kepada siapa. Bila saja sisa bangunan megah dengan peralatan yang ditinggalkan begitu saja ini ada yang mau meneliti dengan seksama, tentulah benang merah sisa kerajaan Sriwijaya yang terhubung dengan Kerajaan Melayu dan campur tangan Singosari dan pengaruh agama Budha yang dibawa dari India seharusnya bisa tersibak apik.

Katanya dari tahun 2009 area ini diajukan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu situs peninggalan dunia. Sudah hampir 9 tahun hingga hari kini, pengajuan tersebut tidak digubris oleh dewan terhormat bangsa-bangsa untuk pendidikan, keilmuan dan kebudayaan itu.

Pedagang K-5

Pangkal dari tidak disetujuinya pengajuan itu bukan perkara nilai sejarah dari peninggalan kampus tua Budha terbesar se-Asia itu, saya mengira ada ketidakbecusan lembaga pemerintah daerah dalam melakukan penelitian, penggalian dan perawatan sebagian besar peninggalan yang jelas-jelas sarat dengan sejarah itu.

_MG_5836

Semestinya foto stupa ini lebih keren kalau tidak tampak gemerlap warna warni merah hijau itu.

Tentu bukan perihal prinsip diatas saja yang menurut saya kenapa UNESCO masih menunda penyematan penghargaan dunia bagi Candi Muaro Jambi, lingkungan komplek percandian yang sebagian terbilang kotor dan kumuh juga menambah ponten merah oleh lembaga dunia itu, belum lagi para pedagang K-5 yang bebas menggelar dagangannya hingga ke dalam komplek candi bikin suasana sangat tidak nyaman.

Alih-alih memberdayakan penduduk setempat untuk memberi peluang usaha dengan berjualan makanan, minuman dan mainan yang mereka lakukan, menurut saya sangat tidak sesuai di tempat bersejarah yang bernilai sangat tinggi, tentu bukan cuma untuk umat Budha, tapi bagi bangsa Indonesia.  

Gubuk temporer yang menggunakan bambu dan triplek beratap terpal warna warni spanduk bekas, yang sebagian bekas kampanye politik lebih menarik perhatian pengunjung ketika mendatangi Candi Gumpung dan Candi Kembar yang terletak tidak jauh dari rumah yang menyimpan replika arca.

Tak sampai disitu, ketika saya datang, persis di sebelah candi Gumpung ada arena bermain anak-anak macam pasar malam yang ada di pasar kaget tradisional. Bagi saya ini bukan hanya tidak tepat, tapi sangat memalukan. Bukan begini seharusnya cara mengundang orang untuk datang mengunjungi situs sejarah!

Candi Koto Mahligai

Dari  8 candi yang telah digali, Candi Astono, Candi Tinggi, Candi Tinggi Satu, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, Candi Gedong Satu, Gedong dua, dan Candi Kedaton, semua saya sambangi dengan menggunakan sepeda sewaan.

Penelusuran area percandian berakhir di pos jaga yang berdekatan dengan musholla. Bersyukur sekali hari itu saya bertemu dengan salah seorang petugas situs, Sulaiman, yang mau memberikan beberapa keterangan tentang situs ini dan yang paling berkesan adalah tawaran Sulaiman untuk mengunjungi Candi Koto Mahligai.

IMG_2673

Petunjuk candi Mahligai dari pinggir jalan

Sejak tiba di area ini pukul 9 pagi, dan sudah berkeliling kiloan meter dengan sepeda saya tidak bertemu dengan Candi Koto Mahligai, saya kira dia asal menyebut. Ternyata tidak, candi yang lokasinya jauh dari pos penjagaan dan harus ditempuh dengan motor bukan berbentuk candi seperti 8 candi lain.

_MG_5843

Hutan tempat mengubur Candi Koto Mahligai

Candi Koto Mahligai adalah sebutan untuk gundukan tanah berbalut pohon-pohon tua di tengah hutan rimba jauh dari pusat percandian yang telah dilakukan pemugaran. Akses menuju tempat ini juga terbilang sulit, dulunya ada jembatan diatas kanal kuno yang menghubungkan area ini dengan area percandian utama, namun jembatan itu rusak dan saya melihat tidak ada usaha perbaikan jembatan.

_MG_5857

Menurut Sulaiman, dibawah gundukan ini lah Candi Koto Mahligai bersemayam.

Menurut keterangan Sulaiman, candi yang masih tertanam pada area ini sengaja tidak digali untuk menunjukkan kondisi asli saat komplek percandian masih terkubur oleh tanah dan pohon-pohon tua yang lebat. Jangan lupa bawa losion anti nyamuk bila mengunjungi area ini, nyamuk yang tinggal disini ngga kira-kira gedenya, gigitannya juga sakit.

IMG_2721

Pohon-pohon besar dan tua ini yang hidup diatas Candi Koto Mahligai.

Sebelum meninggalkan Candi Koto Mahligai, jangan lupa mampir ke “Rest Area” lokasinya berseberangan dengan area Candi Koto Mahligai. Beberapa anak muda disana menyulap area hutan itu menjadi tempat yang asik untuk camping atau sekedar menikmati aliran air pada kanal kuno yang masih terawat sembari menyapa penduduk setempat yang mencari ikan pakai perahu. Beberapa anak muda disana menyebut seluruh area percandian dengan sebutan “Lost City”, Kota yang Hilang. 

IMG_2653

Santai sebentar menahan lapar di rest area Lost City

Kamu yang mau menikmati wisata area “Rest Area”, mereka menyediakan paket wisata menarik. Hubungi aja +62 853-8478-4382 dengan Roni, dia senang sekali menjelaskan paket-paket yang terdiri dari jungle tracking, story telling, heamock, berperahu, show budaya, outbond activity dan banyak lagi ide dari anak-anak kreatif ini.

(8 foto diatas milik Roni, pengelola rest area Lost city dan sudah atas seijinnya) 

Tempoyak

Hari sudah hampir malam, perut juga sudah mulai teriak kelaparan. Sulaiman adalah sahabat perjalanan yang paling ngerti bagaimana cara membayar utang perut yang seharian ini kelaparan.

Rumah Makan Lesehan Nayla Khaidir menurutnya adalah destinasi yang paling tepat di sore itu. Rumah makan yang terletak di Jl. Lintas Timur Dusun Parit RT. 03 Desa Baru Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi menyediakan makanan khas Jambi yang paling asli, Tempoyak.

IMG_2688

Tempoyak adalah makanan yang berasal dari fermentasi duren, kuahnya nikmat bukan kepalang. Pak Khaidir, si empunya warung bilang kalau Tempoyak di warungnya ini Tempoyak yang paling asli. Dia berani bilang kalau rasa Tempoyaknya ini tak kalah dibandingkan dengan Tempoyak di tempat lain. Warung yang berada di pinggir jalan ini memang ramai dikunjungi pembeli.

IMG_2699

Ini dia si pembuat Tempoyak asli yang paling enak, Pak Khaidir dan putrinya, Nayla

Sayangnya sore itu saya kehabisan ikan patin yang menjadi isi dari kuah Tempoyak pa Khaidir, tapi beruntung masih bisa menikmati kuah yang rasanya bener-bener sampai ke hati. Kamu yang berniat ke Situs Muaro Jambi, rumah makan ini adalah pilihan wajib untuk dikunjungi.

Menuju Ke Muaro Jambi

Semenjak Jembatan Batanghari II dibangun, menuju ke area Percandian Situs Muaro Jambi sangat mudah, dari Bandara Sultan Thaha, tinggal pesan Grab, ngga sampai Rp. 100.000 sudah sampai. Perjalanan juga terbilang enak, kerena kondisi jalan sudah rapih dan halus.

IMG_2345

Penyewaan sepeda, tersedia begitu turun Grab Car

Untuk berkeliling area candi juga mudah. Penyewaan sepeda tersedia begitu turun dari Grab Car. Semua serba mudah, semua serba gampang, mungkin yang sulit adalah hasrat kita untuk datang ke tempat berharga yang menunjukkan betapa hebat bangsa ini membangun peradabannya.

Peradaban yang mereka bangun semestinya bikin bangsa ini bersatu dan semakin kuat, bukan mengganti dengan peradaban baru yang memecah belah. Masih banyak sekali yang harus digali, bukan hanya tanah yang mengubur seluruh candi, tapi menggali apa yang nenek moyang tinggalkan di Situs Muaro Jambi untuk keselarasan hidup.

Bagi saya, Situs Purbakala Muaro Jambi adalah teka-teki yang menyimpan kesedihan.

_MG_5734_MG_5724_MG_5708_MG_5707_MG_5691_MG_5685_MG_5668IMG_2407IMG_2408

_MG_5832

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s