Awas! Gaming Disorder pada Anak di Masa PJJ

HEALTH

Alih-alih masa sekolah daring di masa PSBB ini, Pembelajaran Jarak jauh (PJJ) bikin pengawasan orangtua terhadap anak dalam penggunaan gawai cenderung melemah, di sela-sela pembelajaran itu anak kadang menggunakan waktu luang untuk bermain game. 

Sebuah survei oleh Common Sense Media di Philadelphia mengungkapkan bahwa anak-anak mulai usia 4 tahun sudah punya gawai sendiri tanpa pengawasan orang tua. Survei ini diisi oleh 350 orang tua keturunan Afrika-Amerika yang kebanyakan memiliki pendapatan rendah. Mereka mengisi pertanyaan saat sedang mengunjungi Einstein Medical Center di Philadelphia.

70% orang tua mengaku mengizinkan anak-anak mereka yang usianya 6 bulan-4 tahun bermain gawai ketika mereka sedang mengerjakan PR, serta 65% melakukan hal yang sama untuk menenangkan si anak saat berada di tempat umum.

Lalu seperempat orang tua mengaku meninggalkan anak-anak mereka sendiri dengan gawai saat menjelang tidur, padahal layar terang sebetulnya mengganggu tidur.

Perlu orang tua ketahui, candu gawai seperti aplikasi atau game online menimbulkan akibat yang perlu diwaspadai untuk Si Kecil. Bahkan, Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengklasifikasikan kecanduan bermain game sebagai salah satu gangguan mental. Berdasarkan dokumen klasifikasi penyakit internasional ke-11 (International Classified Disease/ICD) yang dikeluarkan WHO, gangguan ini dinamai gaming disorder. 

Gaming disorder oleh WHO digambarkan sebagai perilaku bermain game dengan gigih dan berulang, sehingga menyampingkan kepentingan lainnya. Adapun gejalanya bisa ditandai dengan tiga perilaku.

Pertama, pengidap gangguan gaming disorder akan bermain game secara berlebihan, baik dari segi frekuensi, durasi, maupun intensitas. Gejala kedua, pengidap gaming disorder juga lebih memprioritaskan bermain game. Hingga akhirnya muncul gejala ketiga, yakni tetap melanjutkan permainan meskipun pengidap sadar jika gejala atau dampak negatif pada tubuh mulai muncul.

Kurangnya jam tidur ketika pengidap bermain game online juga menjadi pemicu utama dirinya rentan terhadap penyakit. Selain itu, bermain game online secara terus menerus menyebabkan mood seseorang menjadi lebih labil. Lebih parahnya lagi, seseorang yang tidak bisa mengontrol durasinya untuk bermain game dapat meninggal dunia karena kelelahan bermain game.

Berdasarkan arahan dari WHO, penyembuhan gangguan gaming disorder harus dilakukan selama kurang lebih 12 bulan melalui arahan psikiater. Namun, jika gangguan yang terjadi sudah sangat parah, pengobatan bisa saja berlangsung lebih lama.

Lantas Bagaimana Cara Orangtua Menghentikannya?

Orang tua adalah sosok yang harus dapat merangkul dan melindungi anak-anaknya dari berbagai hal negatif, termasuk candu gawai dan game online.

Pertama, ajaklah anak bercakap-cakap dan berkomunikasi lebih sering. Membahas mengenai banyak hal di luar game dan internet. Momen yang tepat untuk melalukan ini adalah saat makan malam bersama, atau di akhir pekan. Buat aturan agar saat jam makan malam, semua anggota harus hadir di meja makan.

Kedua, orang tua juga dapat menerapkan akses internet yang sehat di rumah dengan cara membatasi jaringan Wi-Fi pada waktu tertentu.

Ketiga, buat persetujuan dengan seluruh anggota keluarga: 30 menit sebelum masuk waktu tidur, semua perangkat elektronik harus dimatikan. Hal ini penting agar anak dapat tidur nyenyak tanpa gangguan, sekaligus melatih anak disiplin.

Terakhir, jika anak terus menunjukkan pemberontakannya dan nampak tak punya kesadaran untuk melakukan apa yang telah Anda putuskan demi kebaikannya, maka Anda dapat mengambil langkah terakhir, yaitu detox digital.

Amankan atau sembunyikan perangkat game dari jangkauan anak hingga batas waktu yang menurut Anda tepat. Misalnya, satu atau dua minggu. Atau bisa juga Anda mengamankan perangkat game mereka pada hari-hari sekolah dan hanya mengeluarkannya pada akhir pekan atau hari libur.

Jangan lupa untuk selalu mendampingi anak ketika mereka bermain, agar orangtua juga dapat mengetahui, apa yang sebenarnya membuat anak kecanduan main game itu.

Jangan gunakan game sebagai pengalih perhatian anak agar mereka tidak mengganggu Anda bekerja atau menyelesaikan pekerjaan rumah.

Menyembuhkan anak dari kecanduan game mungkin akan menyita banyak waktu dan perhatian Anda. Namun dengan keyakinan dan cinta kasih pasti upaya Anda akan berhasil!

Bagaimana kalau tuhan itu akal sehat

FILM

Dia yang bukan hanya maha besar, maha penyayang, maha pengasih dan maha segala yang belum disebutan, bahwa Dia adalah yang maha cerdas dan mampu menjelaskan segalanya bukan cuma dengan keimanan tapi dengan ilmu pengetahuan. 

Film ini mengambil seting pada tahun 1835 di Perancis, dimana pengaruh gereja sangat yang berkuasa sat itu memaksa setiap orang untuk beriman dengan mematikan ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir. 

Setelah beberapa fasiltias ilmu pengetahuan dihancurkan gereka, sekelompok orang berkumpul dan ‘mengadukan’ berbagai perihal kepada roh leluhur melalui bantuan medium. Cara yang mereka lakukan cukup aneh, dengan ‘mengorbankan’ seorang medium untuk mendengarkan ‘ucapan’ dari roh leluhur.

Ajaran spiritualisme lahir sebagai protes terhadap gereja dengan lebih mendengarkan nasihat leluhur. Allan Kardec, pencetus ajaran ini mendapat tekanan dari gereja dan dipaksa untuk menyatakan bahwa doktrin spiritualisme sebagai kesalahan kepada gereja. 

Ajaran ini masih punya banyak pengikut di eropa hingga kini. 

image: Netflix.com

Materialisme adalah penderitaan, Spiritualisme adalah kemurnian.