“Buat Apa Belajar Medsos!”

MANAGEMENT

Suatu waktu seorang kawan heran mendengar saya mengajar media sosial. “Buat apa medsos diajarin? Kan cuma foto, posting terus jawab komen!” 

Kalau sekedar untuk posting, terus gimana para kapitalis penyedia layanan media sosial itu bisa jadi perusahaan terkaya di bumi? Gimana sebuah brand yang baru lahir sudah dikenal seantero jagad? Gimana orang jualan makanan rumahan yang ngga punya toko omset per hari sampai jutaan?

Setelah saya diminta mengajar dan mengelola media sosial di beberapa perusahaan dan lembaga pemerintah baik di Jakarta, Bali, Vietnam, maupun di Kalimantan Selatan, saya berharap tulisan ini bisa mengurangi pertanyaan serupa di masa depan.

Pelatihan Media Sosial bagi staf BPOM

Media sosial sebagai sarana penguat bisnis

Jika dulu banyak perusahaan yang antipati terhadap adanya media sosial, karena dianggap dapat menurunkan produktivitas perusahaan, maka kini sebaliknya.

Ada beberapa alasan yang mendasari beberapa perusahaan mulai masuk ke ranah media sosial.

Meningkatkan hubungan antara perusahaan dengan  konsumen. 

Media sosial memungkinkan konsumen untuk berkomentar langsung dengan apa yang sedang dilakukan atau yang sedang terjadi dengan perusahaan tersebut. 

Mempercepat proses pembuatan keputusan. 

Dengan melempar topik yang dibutuhkan feedback dari masyarakat, produsen dapat masukan yang sangat beragam dengan cepat sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan.

Brand awareness and user engagement. 

Media sosial mampu mengumpulkan komunitas dalam satu wadah tertentu, hal ini memudahkan sebuah brand untuk melakukan promosi atau sekedar untuk berinteraksi dengan konsumen untuk menjaga kesetiaan mereka. Semakin merasa terlibat dengan sebuah brand kita semakin ingin kasih banyak masukan.

Viral marketing. 

Ide bisa berkembang lebih cepat dengan melemparkan ke ranah media sosial. Brand mesti pinter membangun posting yang bukan cuma menarik tapi shareable.

Menurunkan biaya. 

Media sosial meningkatkan efisiensi perusahaan, antara lain mengurangi biaya komunikasi karena dengan media sosial netizen kadang-kadang secara sukarela mau jadi juru bicara. Bila dikelola dengan baik dan tepat, media sosial akan mengurangi biaya riset. Banyak perusahaan yang melakukan survey (gratis) lewat media sosial.

Media Sosial (bagi sebuah brand) Nggak Gratis!

Walaupun semua platform media sosial disediakan oleh penciptanya secara gratis, bagi perusahaan yang pingin mendongkrak penjualan atau membuat brand terkenal, tidak akan diberikan semuanya secara gratis!

Paling tidak, meskipun dalam skala kecil, perusahaan sudah harus memiliki staf untuk mengelola akun. Hal ini sangat penting karena salah satu pengukuran efektivitas media sosial harus dilakukan secara berkala dan dikelola dengan baik, dan ingat: secara terus menerus!

Karena ‘rumitnya’ urusan mengelola secara terus menerus ini, perusahaan bisa saja terpaksa membayar jasa pengelolaan media sosial dalam melakukan perencanaan konten, copywriting, desain konten, posting, boosting, pengukuran pasar, sampai kampanye dan promosi. Beberapa lembaga besar secara khusus memberikan pelatihan bagi staf yang mengelola media sosial mereka

Pengukuran media sosial oleh para pelaku usaha adalah satu strategi yang relatif baru dan pengukurannya juga masih sangat relatif karena awareness-nya bersifat non-fisik.

Foto bareng usai 6 sesi pelatihan media sosial di BPOM.

Pengukuran

Salah satu hambatan yang besar bagi perusahaan untuk melakukan investasi dalam mengadopsi media sosial kedalam usaha mereka adalah pengukuran. Sebagian dari manajemen puncak masih meragukan kemampuan media sosial dalam menciptakan awareness, brand image atau membantu pertumbuhan penjualan. Perusahaan-perusahaan seperti ini, masih sangat mengandalkan media-media konvensional yang memang sampai hari ini, masih memberikan dampak besar dalam penjualan. Hal ini yang bikin beberapa brand lawas belum sepenuhnya melirik secara utuh sosial media marketing.

Celakanya, ada perusahaan yang tidak mengukur efektivitas media sosial mereka karena berpikir semua ini adalah gratis, beberapa pemimpin perusahaan yang pernah saya temui mengeluarkan budget untuk media sosial dalam jumlah sangat kecil atau tidak ada sama sekali. Alih-alih efisiensi, mereka memberikan pekerjaan tambahan pada Divisi IT, yang menurut mereka media sosial adalah bagian dari pekerjaan IT (heeeyyyy!!!!!)

Kepada pemimpin perusahaan yang masih meyakini pekerjaan media sosia cukup dikelola oleh divisi IT, saya katakan bahwa media sosial bukan tentang ‘troubleshooting’ dan narik kabel’. Mereka tidak memerhatikan masalah behaviorism, estetika disain, engagement sampai pengukuran efektifitasnya. Buat apa masuk ke platform baru tapi tidak ada pengukuran! 

Pengukuran terhadap efektivitas media sosial menjadi salah satu topik yang menarik perhatian dari para praktisi media sosial. Berbagai alat pengukuran yang sederhana hingga alat pengukuran ‘berbiaya besar’ telah tersedia. Semua ini sungguh berguna! Hanya saja, yang menjadi tantangan bagi para CEO dan CMO adalah mengintegrasikan keseluruhan dari alat-alat ukur ini. Yang penting para pimpinan perusahaan sadar dan mau cari tahu lebih dalam sembari tengok tetangga sebelah bagaimana brand tetangga yang memasukan anggaran cukup bagi media sosial marketing telah maju pesat.

Kembali ke cerita kawan saya diatas tadi, semoga bila Ia telah menjadi CEO tidak menugaskan seorang IT apalagi satpam perusahaan yang nyambi pekerjaan media sosial.

Pelatihan Media Sosial bagi lembaga-lembaga NGO di Kalimantan Selatan

Awas! Gaming Disorder pada Anak di Masa PJJ

HEALTH

Alih-alih masa sekolah daring di masa PSBB ini, Pembelajaran Jarak jauh (PJJ) bikin pengawasan orangtua terhadap anak dalam penggunaan gawai cenderung melemah, di sela-sela pembelajaran itu anak kadang menggunakan waktu luang untuk bermain game. 

Sebuah survei oleh Common Sense Media di Philadelphia mengungkapkan bahwa anak-anak mulai usia 4 tahun sudah punya gawai sendiri tanpa pengawasan orang tua. Survei ini diisi oleh 350 orang tua keturunan Afrika-Amerika yang kebanyakan memiliki pendapatan rendah. Mereka mengisi pertanyaan saat sedang mengunjungi Einstein Medical Center di Philadelphia.

70% orang tua mengaku mengizinkan anak-anak mereka yang usianya 6 bulan-4 tahun bermain gawai ketika mereka sedang mengerjakan PR, serta 65% melakukan hal yang sama untuk menenangkan si anak saat berada di tempat umum.

Lalu seperempat orang tua mengaku meninggalkan anak-anak mereka sendiri dengan gawai saat menjelang tidur, padahal layar terang sebetulnya mengganggu tidur.

Perlu orang tua ketahui, candu gawai seperti aplikasi atau game online menimbulkan akibat yang perlu diwaspadai untuk Si Kecil. Bahkan, Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengklasifikasikan kecanduan bermain game sebagai salah satu gangguan mental. Berdasarkan dokumen klasifikasi penyakit internasional ke-11 (International Classified Disease/ICD) yang dikeluarkan WHO, gangguan ini dinamai gaming disorder. 

Gaming disorder oleh WHO digambarkan sebagai perilaku bermain game dengan gigih dan berulang, sehingga menyampingkan kepentingan lainnya. Adapun gejalanya bisa ditandai dengan tiga perilaku.

Pertama, pengidap gangguan gaming disorder akan bermain game secara berlebihan, baik dari segi frekuensi, durasi, maupun intensitas. Gejala kedua, pengidap gaming disorder juga lebih memprioritaskan bermain game. Hingga akhirnya muncul gejala ketiga, yakni tetap melanjutkan permainan meskipun pengidap sadar jika gejala atau dampak negatif pada tubuh mulai muncul.

Kurangnya jam tidur ketika pengidap bermain game online juga menjadi pemicu utama dirinya rentan terhadap penyakit. Selain itu, bermain game online secara terus menerus menyebabkan mood seseorang menjadi lebih labil. Lebih parahnya lagi, seseorang yang tidak bisa mengontrol durasinya untuk bermain game dapat meninggal dunia karena kelelahan bermain game.

Berdasarkan arahan dari WHO, penyembuhan gangguan gaming disorder harus dilakukan selama kurang lebih 12 bulan melalui arahan psikiater. Namun, jika gangguan yang terjadi sudah sangat parah, pengobatan bisa saja berlangsung lebih lama.

Lantas Bagaimana Cara Orangtua Menghentikannya?

Orang tua adalah sosok yang harus dapat merangkul dan melindungi anak-anaknya dari berbagai hal negatif, termasuk candu gawai dan game online.

Pertama, ajaklah anak bercakap-cakap dan berkomunikasi lebih sering. Membahas mengenai banyak hal di luar game dan internet. Momen yang tepat untuk melalukan ini adalah saat makan malam bersama, atau di akhir pekan. Buat aturan agar saat jam makan malam, semua anggota harus hadir di meja makan.

Kedua, orang tua juga dapat menerapkan akses internet yang sehat di rumah dengan cara membatasi jaringan Wi-Fi pada waktu tertentu.

Ketiga, buat persetujuan dengan seluruh anggota keluarga: 30 menit sebelum masuk waktu tidur, semua perangkat elektronik harus dimatikan. Hal ini penting agar anak dapat tidur nyenyak tanpa gangguan, sekaligus melatih anak disiplin.

Terakhir, jika anak terus menunjukkan pemberontakannya dan nampak tak punya kesadaran untuk melakukan apa yang telah Anda putuskan demi kebaikannya, maka Anda dapat mengambil langkah terakhir, yaitu detox digital.

Amankan atau sembunyikan perangkat game dari jangkauan anak hingga batas waktu yang menurut Anda tepat. Misalnya, satu atau dua minggu. Atau bisa juga Anda mengamankan perangkat game mereka pada hari-hari sekolah dan hanya mengeluarkannya pada akhir pekan atau hari libur.

Jangan lupa untuk selalu mendampingi anak ketika mereka bermain, agar orangtua juga dapat mengetahui, apa yang sebenarnya membuat anak kecanduan main game itu.

Jangan gunakan game sebagai pengalih perhatian anak agar mereka tidak mengganggu Anda bekerja atau menyelesaikan pekerjaan rumah.

Menyembuhkan anak dari kecanduan game mungkin akan menyita banyak waktu dan perhatian Anda. Namun dengan keyakinan dan cinta kasih pasti upaya Anda akan berhasil!