Bukan Elang

FILM
credit photo: tranikovstudio

“Berharaplah akan sesuatu hal bahkan terhadap hal yang tidak ada dasar untuk kamu berharap akan hal tersebut”

Gadis yang saat itu baru menginjak usia 18 tahun mungkin tidak pernah tahu isi salah satu firman Tuhan yang tertera pada salah satu kitab-Nya di atas, yang ia tahu hanya lah bagaimana dalam hidup yang sekali ini bisa seperti elang yang bisa mencicipi rasa hinggap di berbagai belahan bumi tanpa rasa takut. 

Pilihan untuk menjadi penakut dan pemberani terhampar di hadapan. Sebuah pilihan untuk terbang mengarungi garis cakrawala berbenturan dengan pilihan bertelur seperti seekor ayam yang memiliki sayap tapi tidak mampu terbang tinggi. 

Seorang yang teguh dan keras dengan pendirian dan harapan itu kini telah menjalani lebih dari setengah hidupnya menjadi apa yang pernah ia harapkan. Namun pilihan ya tetap pilihan, bukan pilihan namanya kalau memilih salah satu, punya konsekuensi yang sama dengan pilihan yang lainnya. 

Memilih pilihan terbang tinggi sesuai apa yang pernah diharapkan pernah meluluhlantakkan harapannya yang lain. Seekor ayam yang memilih untuk bertelur tentulah memiliki kesenangan tersendiri dibanding seekor elang yang terbang hingga ke ujung buana. 

Harapan itu kini masih dinikmati oleh anak yang pernah tahu bagaimana cara membuat harapan itu terjadi, bila dalam pilihan itu ada risiko, itu bukan bagian dari skenario ini, tapi mungkin itu adalah cara Tuhan untuk bilang bahwa “Aku tidak bisa memberi semua pilihan dengan risiko yang sama” 

Saya langsung ingat apa yang pernah dibilang Letnan Kolonel Frank Slade (Al Pacino) kepada Charlie Simms (Chris O’Donnell) dalam film Scent of a Woman tahun 1992: Belajar Tango lebih mudah dari pada hidup. Bila kamu salah melakukan gerakan di Tango lanjutkan saja, tapi tidak begitu di kehidupan.

Bagaimana kalau tuhan itu akal sehat

FILM

Dia yang bukan hanya maha besar, maha penyayang, maha pengasih dan maha segala yang belum disebutan, bahwa Dia adalah yang maha cerdas dan mampu menjelaskan segalanya bukan cuma dengan keimanan tapi dengan ilmu pengetahuan. 

Film ini mengambil seting pada tahun 1835 di Perancis, dimana pengaruh gereja sangat yang berkuasa sat itu memaksa setiap orang untuk beriman dengan mematikan ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir. 

Setelah beberapa fasiltias ilmu pengetahuan dihancurkan gereka, sekelompok orang berkumpul dan ‘mengadukan’ berbagai perihal kepada roh leluhur melalui bantuan medium. Cara yang mereka lakukan cukup aneh, dengan ‘mengorbankan’ seorang medium untuk mendengarkan ‘ucapan’ dari roh leluhur.

Ajaran spiritualisme lahir sebagai protes terhadap gereja dengan lebih mendengarkan nasihat leluhur. Allan Kardec, pencetus ajaran ini mendapat tekanan dari gereja dan dipaksa untuk menyatakan bahwa doktrin spiritualisme sebagai kesalahan kepada gereja. 

Ajaran ini masih punya banyak pengikut di eropa hingga kini. 

image: Netflix.com

Materialisme adalah penderitaan, Spiritualisme adalah kemurnian. 

Muhammad: The Messenger of God (2015) Kenapa Tidak Tayang di Bioskop Kami

FILM

Alasan sebelum nonton tayangan film yang beredar, selain lihat dulu resensi, rating IMDb selalu jadi patokan. Nilai 8.1 dari 10 untuk film Muhammad: The Messenger of God adalah angka yang sangat mengagumkan buat gua. Bayangkan, Assassin’s Creed (2016) yang cuma dapat rating 6.4 gua cukup antusias untuk nonton dan bawa anak-anak.

Tersebut lah kisah Abraha, Raja Habasha, memerintahkan salah satu panglima perangnya untuk menyerang kota Mekah. Ia ingin bangunan Kabah dihancurkan. Ia kemudian menyusun rencana dan kekuatan sebaik mungkin. Salah satunya dengan menyiapkan pasukan tangguh yang terdiri dari ribuan tentara manusia, kuda, dan gajah.

Namun rencana penyerangan pasukan Abraha gagal di tengah jalan. Ketika sebagian pasukan mulai mendekati Mekah, para gajah mendadak berhenti bergerak. Mereka tiba-tiba lari berbalik arah, seolah ingin menjauh dari Mekah.

Tak lama kemudian muncul jutaan burung kecil membawa batu di kaki mereka. Burung-burung ini menghujani pasukan Abraha dengan batu dan memusnahkan seluruh pasukan Abraha. Sebulan setelah peristiwa itu, lahir lah sang nabi akhir zaman, Muhammad SAW

muhammad_-_the_messenger_of_god_poster

Petikan kisah film dengan anggaran sangat besar karya sineas Iran berjudul Muhammad, Messenger of God. Film yang berkisah tentang masa kecil Nabi Muhammad dengan segala bentuk tirani dan penindasan terhadap umat Islam seharusnya sudah tayang sejak tahun 2015 lalu. Cerita yang selama ini gua dapat dari buku-buku atau dinukilkan oleh guru ngaji semasa kecil di surau itu mestinya bisa gua lihat secara mengagumkan di layar lebar layaknya Assassin’s Creed yang jauh tidak menarik itu.

mv5bngfmntbhzdatzdy2my00ytgwlwfimtctoguwzddjnjq1nza0xkeyxkfqcgdeqxvynji1nzexnzi-_v1_

Sayangnya film berdurasi 190 menit ini menuai kritik dan penolakan dari kelompok konservatif. Film Muhammad: The Messenger of God dinilai kurang pantas. Salah satunya karena menyertakan shot belakang punggung Muhammad muda saat memandang langit. Penggambaran fisik Muhammad adalah tabu bagi masyarakat muslim dunia – terutama yang berpegang teguh pada tradisi Sunni yang dominan – meski kaum Syiah, yang terdiri atas 95 persen penduduk Iran, memiliki pendekatan dan tanggapan lebih liberal untuk masalah ini.

mv5bztg0n2jindutotrmnc00zdvjlwi3mmetmwiznmi5zmfizde5xkeyxkfqcgdeqxvynji1nzexnzi-_v1_

Petikan wawancara The Guardian, Majid Majidi sang Sutradara, bilang bahwa dia sadar akan banyak kritik yang muncul terhadap film ini, tapi menurutnya ini adalah persoalaan kepercayaan individu. Dirinya yakin bahwa Ia masih memegang teguh aturan agama dan Allah selama pembuatan film ini. “Saya menyayangi Nabi Muhammad SAW” tuturnya.

Dalam film ini Majid berniat memperkenalkan Nabi Muhammad SAW dan menyampaikan pesan persatuan dunia Islam. “Kami memilih membagi kisah masa hidup Nabi ke dalam film karena banyak yang berbagi pesan lewat media ini. Kami juga ingin menunjukkan dan kembali mengingatkan bahwa Islam itu satu dengan menunjukkan tidak ada perbedaan antara Syiah dan Sunni serta kelompok Islam lainnya. Kami membawa pandangan persatuan Islam,” ujar Majid yang juga sutradara Children of Heaven (1997).

Bila saja scene yang nampak punggung belakang Nabi Muhammad muda itu dipotong, sehingga tidak ada satu pun penampakan Beliau, apakah film ini tetap tayang di bioskop negeri ini? Wallahu A’lam Bishawab. Mungkin bukan cuma perihal itu, tentu masih ada lagi alasan orang-orang pintar kenapa film yang trailler-nya ajah bikin hati bergetar ini tidak tayang di negeri ini. Tap ajah embedeb Youtube ini  https://www.youtube.com/watch?v=AedBPzbgcZE  

Kalau sejarah Cal Lynch yang keturunan Creed sebagai hayalan team Ubisoft bisa gua tonton bersama anak-anak gua di layar lebar kenapa kehidupan masa kecil panutan gua, Muhammad Rosulullah ngga bisa?

Shollu Ala Muhammad

mv5bzteynwm3mmetymrkni00njk3ltg2zjutmza2mwm0m2u4mdiwxkeyxkfqcgdeqxvynji1nzexnzi-_v1_