Situs Muaro Jambi, Kampus Budha yang Telantar di Jambi

TRAVEL

Pergilah ke Muaro Jambi di Sumatera, kau akan menemukan puluhan candi peninggalan Budha yang terbengkalai. Ada 8 candi yang sudah digali dari dalam tanah namun masih puluhan yang terkubur.

_MG_5743

Menapo atau lokasi candi di dalam tanah yang masih dalam proses penggalian. 

Tentu bukan cuma candi yang bakal kau temui di lahan seluas 3.981 hektar itu. Sisa kehidupan yang pernah menempel di tanah itu sebagian masih terlihat wujudnya. Kanal-kanal kuno yang dibuat untuk transportasi dan mobilisasi bahan bangunan candi yang terhubung oleh Sungai Batang Hari adalah bukti yang mereka tinggalkan.

Penghuni Kuno

Salah seorang penjaga candi yang saya temui ketika mengunjungi komplek bangunan candi itu, Februari 2018 lalu, menukil bahwa lingkungan seluas itu digunakan untuk menuntut ilmu agama Budha, bukan hanya oleh orang Indonesia. Beberapa murid dari India, Tibet, Cina, dan beberapa penganut Budha lain di Asia juga belajar disini, hal ini dibuktikan oleh mata uang dan beberapa cindera mata yang ditemukan.

_MG_5660

Siapa yang membangun dan siapa yang mengelola komplek seluas itu? pak Herman  seorang petugas komplek candi menjelaskan dari cerita yang dia dengar turun temurun, dulunya komplek itu dijadikan tempat menuntut ilmu agama Budha dari berbagai negara, mereka yang datang tidak hanya mempelajari ilmu agama akan tetapi mereka juga ikut membangun tempat ini.

Hal itu terbukti dari kanal-kanal yang sengaja dibuat untuk memudahkan distribusi beberapa arca dan bebatuan yang dikirim dari Kamboja dan bangsa-bangsa sekitar yang ingin ikut membangun komplek candi, sebagaian besar murid itu lama di komplek candi ini.

_MG_5753

Salah satu kanal kuno yang dijadikan penduduk setempat untuk mencari ikan

Saat mendengar pak Herman  asik bercerita, saya membayangkan kehidupan di abad 7 ketika komplek ini aktif digunakan. pak Herman  kembali menceritakan tentang menapo atau gundukan tanah yang masih terdapat candi didalamnya.

Kenapa Ditinggalkan

Membayangkan ramainya kehidupan di komplek candi dan bangunan candi yang terbentang pada area seluas 8 kali komplek Candi Borobudur itu ditinggalkan begitu saja, saya gatal sekali untuk bertanya kepada pak Herman  kenapa mereka begitu saja meninggalkan komplek candi.

Banjir bandang yang sangat besar jelang abad 12 meninggalkan dampak penyakit kolera yang hebat ketika itu. Menurut keterangan pak Herman, beberapa murid dan guru yang ada disini tidak tertolong lagi meninggal di tempat ini, namun beberapa yang belum terkena dampak endemi itu malarikan diri, mungkin mereka balik ke tempat asalnya.

Semua yang pernah mereka bawa, termasuk cindera mata baik yang terbuat dari bebatuan dan emas mereka tinggalkan disini. Peninggalan itu masih tersimpan baik di Museum Jambi, beberapa replika ada di Rumah Penyimpanan di Muaro Jambi.

This slideshow requires JavaScript.

Komplek candi yang telah mereka bangun dan tempat mereka hidup selama kurang lebih 500 tahun mereka tinggalkan begitu saja hingga alam melalui mekanismenya melindungi peninggalan ini. Melalui tanah, dedaunan, dan pohon-pohon besar termasuk pohon-pohon duku ikut mengubur komplek ini selama ratusan tahun.

Penemuan  

Orang Eropa pertama yang mendeskripsikan Muaro Jambi adalah surveyor Inggris, Kapten SC Crooke, yang mengunjungi daerah itu pada tahun 1820. Dia mencatat secara sepintas bahwa tidak ada (arca) yang ditemukan kecuali sosok kecil yang termutilasi dari (patung) gajah, dan kepala berukuran penuh terbuat dari batu, memiliki rambut keriting. (Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia oleh Natasha Reichle, Bab 3 halaman 64)

Sumber lain menyebutkan, demi kepentingan pertahanan militer, pemerintah Inggris mengutus seorang letnan SC. Crooke untuk menelusuri Sungai Batanghari di Sumatera. Saya tidak menemukan literatur yang menyebutkan hasil dari pemetaan ini kecuali penemuan serpihan-serpihan batu bata merah masiv di pada kanal-kanal sungai Batanghari oleh S.C. Crooke tahun 1820.  

Penggalian oleh pemerintah Indonesia baru dilakukan pada tahun 1975. Arca yang ditemukan tidak hanya berasal dari beberapa wilayah luar Indonesia, beberapa arca yang terdapat di Situs Muaro Jambi juga dikirim dari Singosari  dan Thailand (Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia oleh Natasha Reichle, Bab 3 halaman 67).

Terdapat banyak sekali sisa-sisa reruntuhan Situs Muaro Jambi, baik yang masih tersimpan di rumah penyimpanan di Muaro Jambi dalam bentuk replika maupun arca asli yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta dan Museum Jambi. Beberapa arca itu sering dipamerkan di negara-negara Eropa.

Apa yang menjadi temuan SC. Crooke tahun 1820 itu adalah cikal bakal terkuaknya sebuah peradaban yang berlangsung lama di Muaro Jambi. Sayangnya anggapan pak Herman  bahwa orang-orang yang dulu menetap di Situs Percandian Muaro Jambi ngga punya bukti kuat kalau mereka meninggalkan komplek itu kerena banjir dan endemi kolera. Saat saya tanya apakah pernah ditemukan tulang manusia sebagai bukti bahwa pernah ada sekelompok orang yang mati di tempat itu? menurutnya belum pernah ditemukan.

Kenapa ditelantarkan?

_MG_5773

Candi Gumpung, menurut petugas setempat bila tanah pada area itu digali lagi sekitar 6 meter, baru bisa ditemukan dasar candi, jadi mereka belum menggali sampai titik terbawah kehidupan orang-orang pada waktu itu, dengan dalih tidak ada area untuk membuang tanah galian.

7 jam berada di area komplek percandian, banyak sekali pertanyaan yang ingin saya tanyakan, entah kepada siapa. Bila saja sisa bangunan megah dengan peralatan yang ditinggalkan begitu saja ini ada yang mau meneliti dengan seksama, tentulah benang merah sisa kerajaan Sriwijaya yang terhubung dengan Kerajaan Melayu dan campur tangan Singosari dan pengaruh agama Budha yang dibawa dari India seharusnya bisa tersibak apik.

Katanya dari tahun 2009 area ini diajukan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu situs peninggalan dunia. Sudah hampir 9 tahun hingga hari kini, pengajuan tersebut tidak digubris oleh dewan terhormat bangsa-bangsa untuk pendidikan, keilmuan dan kebudayaan itu.

Pedagang K-5

Pangkal dari tidak disetujuinya pengajuan itu bukan perkara nilai sejarah dari peninggalan kampus tua Budha terbesar se-Asia itu, saya mengira ada ketidakbecusan lembaga pemerintah daerah dalam melakukan penelitian, penggalian dan perawatan sebagian besar peninggalan yang jelas-jelas sarat dengan sejarah itu.

_MG_5836

Semestinya foto stupa ini lebih keren kalau tidak tampak gemerlap warna warni merah hijau itu.

Tentu bukan perihal prinsip diatas saja yang menurut saya kenapa UNESCO masih menunda penyematan penghargaan dunia bagi Candi Muaro Jambi, lingkungan komplek percandian yang sebagian terbilang kotor dan kumuh juga menambah ponten merah oleh lembaga dunia itu, belum lagi para pedagang K-5 yang bebas menggelar dagangannya hingga ke dalam komplek candi bikin suasana sangat tidak nyaman.

Alih-alih memberdayakan penduduk setempat untuk memberi peluang usaha dengan berjualan makanan, minuman dan mainan yang mereka lakukan, menurut saya sangat tidak sesuai di tempat bersejarah yang bernilai sangat tinggi, tentu bukan cuma untuk umat Budha, tapi bagi bangsa Indonesia.  

Gubuk temporer yang menggunakan bambu dan triplek beratap terpal warna warni spanduk bekas, yang sebagian bekas kampanye politik lebih menarik perhatian pengunjung ketika mendatangi Candi Gumpung dan Candi Kembar yang terletak tidak jauh dari rumah yang menyimpan replika arca.

Tak sampai disitu, ketika saya datang, persis di sebelah candi Gumpung ada arena bermain anak-anak macam pasar malam yang ada di pasar kaget tradisional. Bagi saya ini bukan hanya tidak tepat, tapi sangat memalukan. Bukan begini seharusnya cara mengundang orang untuk datang mengunjungi situs sejarah!

Candi Koto Mahligai

Dari  8 candi yang telah digali, Candi Astono, Candi Tinggi, Candi Tinggi Satu, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, Candi Gedong Satu, Gedong dua, dan Candi Kedaton, semua saya sambangi dengan menggunakan sepeda sewaan.

Penelusuran area percandian berakhir di pos jaga yang berdekatan dengan musholla. Bersyukur sekali hari itu saya bertemu dengan salah seorang petugas situs, Sulaiman, yang mau memberikan beberapa keterangan tentang situs ini dan yang paling berkesan adalah tawaran Sulaiman untuk mengunjungi Candi Koto Mahligai.

IMG_2673

Petunjuk candi Mahligai dari pinggir jalan

Sejak tiba di area ini pukul 9 pagi, dan sudah berkeliling kiloan meter dengan sepeda saya tidak bertemu dengan Candi Koto Mahligai, saya kira dia asal menyebut. Ternyata tidak, candi yang lokasinya jauh dari pos penjagaan dan harus ditempuh dengan motor bukan berbentuk candi seperti 8 candi lain.

_MG_5843

Hutan tempat mengubur Candi Koto Mahligai

Candi Koto Mahligai adalah sebutan untuk gundukan tanah berbalut pohon-pohon tua di tengah hutan rimba jauh dari pusat percandian yang telah dilakukan pemugaran. Akses menuju tempat ini juga terbilang sulit, dulunya ada jembatan diatas kanal kuno yang menghubungkan area ini dengan area percandian utama, namun jembatan itu rusak dan saya melihat tidak ada usaha perbaikan jembatan.

_MG_5857

Menurut Sulaiman, dibawah gundukan ini lah Candi Koto Mahligai bersemayam.

Menurut keterangan Sulaiman, candi yang masih tertanam pada area ini sengaja tidak digali untuk menunjukkan kondisi asli saat komplek percandian masih terkubur oleh tanah dan pohon-pohon tua yang lebat. Jangan lupa bawa losion anti nyamuk bila mengunjungi area ini, nyamuk yang tinggal disini ngga kira-kira gedenya, gigitannya juga sakit.

IMG_2721

Pohon-pohon besar dan tua ini yang hidup diatas Candi Koto Mahligai.

Sebelum meninggalkan Candi Koto Mahligai, jangan lupa mampir ke “Rest Area” lokasinya berseberangan dengan area Candi Koto Mahligai. Beberapa anak muda disana menyulap area hutan itu menjadi tempat yang asik untuk camping atau sekedar menikmati aliran air pada kanal kuno yang masih terawat sembari menyapa penduduk setempat yang mencari ikan pakai perahu. Beberapa anak muda disana menyebut seluruh area percandian dengan sebutan “Lost City”, Kota yang Hilang. 

IMG_2653

Santai sebentar menahan lapar di rest area Lost City

Kamu yang mau menikmati wisata area “Rest Area”, mereka menyediakan paket wisata menarik. Hubungi aja +62 853-8478-4382 dengan Roni, dia senang sekali menjelaskan paket-paket yang terdiri dari jungle tracking, story telling, heamock, berperahu, show budaya, outbond activity dan banyak lagi ide dari anak-anak kreatif ini.

(8 foto diatas milik Roni, pengelola rest area Lost city dan sudah atas seijinnya) 

Tempoyak

Hari sudah hampir malam, perut juga sudah mulai teriak kelaparan. Sulaiman adalah sahabat perjalanan yang paling ngerti bagaimana cara membayar utang perut yang seharian ini kelaparan.

Rumah Makan Lesehan Nayla Khaidir menurutnya adalah destinasi yang paling tepat di sore itu. Rumah makan yang terletak di Jl. Lintas Timur Dusun Parit RT. 03 Desa Baru Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi menyediakan makanan khas Jambi yang paling asli, Tempoyak.

IMG_2688

Tempoyak adalah makanan yang berasal dari fermentasi duren, kuahnya nikmat bukan kepalang. Pak Khaidir, si empunya warung bilang kalau Tempoyak di warungnya ini Tempoyak yang paling asli. Dia berani bilang kalau rasa Tempoyaknya ini tak kalah dibandingkan dengan Tempoyak di tempat lain. Warung yang berada di pinggir jalan ini memang ramai dikunjungi pembeli.

IMG_2699

Ini dia si pembuat Tempoyak asli yang paling enak, Pak Khaidir dan putrinya, Nayla

Sayangnya sore itu saya kehabisan ikan patin yang menjadi isi dari kuah Tempoyak pa Khaidir, tapi beruntung masih bisa menikmati kuah yang rasanya bener-bener sampai ke hati. Kamu yang berniat ke Situs Muaro Jambi, rumah makan ini adalah pilihan wajib untuk dikunjungi.

Menuju Ke Muaro Jambi

Semenjak Jembatan Batanghari II dibangun, menuju ke area Percandian Situs Muaro Jambi sangat mudah, dari Bandara Sultan Thaha, tinggal pesan Grab, ngga sampai Rp. 100.000 sudah sampai. Perjalanan juga terbilang enak, kerena kondisi jalan sudah rapih dan halus.

IMG_2345

Penyewaan sepeda, tersedia begitu turun Grab Car

Untuk berkeliling area candi juga mudah. Penyewaan sepeda tersedia begitu turun dari Grab Car. Semua serba mudah, semua serba gampang, mungkin yang sulit adalah hasrat kita untuk datang ke tempat berharga yang menunjukkan betapa hebat bangsa ini membangun peradabannya.

Peradaban yang mereka bangun semestinya bikin bangsa ini bersatu dan semakin kuat, bukan mengganti dengan peradaban baru yang memecah belah. Masih banyak sekali yang harus digali, bukan hanya tanah yang mengubur seluruh candi, tapi menggali apa yang nenek moyang tinggalkan di Situs Muaro Jambi untuk keselarasan hidup.

Bagi saya, Situs Purbakala Muaro Jambi adalah teka-teki yang menyimpan kesedihan.

_MG_5734_MG_5724_MG_5708_MG_5707_MG_5691_MG_5685_MG_5668IMG_2407IMG_2408

_MG_5832

 

Wae Rebo: Cara Asik Menempuh Dari Labuhan Bajo

TRAVEL

“Wae Rebo? Apaan tuh!” lontaran teman ketika saya tawari untuk menyambangi desa di atas langit di Flores. Mulanya mereka berpikir kalau selagi di Flores destinasi utama adalah Pulau Rinca, Pulau Padar, Pink Beach dan sekitarnya. Tapi begitu saya sajikan beberapa foto Wae Rebo, sontak mereka melupakan pulau-pulau yang sempat jadi cita-cita. “Ok Bro! Udah Wae Rebo nyok!!”

Minimnya informasi dan ketersediaan angkutan umum dari Labuhan Bajo ke Wae Rebo, bikin galau dan hampir memudarkan niat untuk ke Wae Rebo waktu itu. Beberapa blog memang menjelaskan cara termudah ke Wae Rebo dengan menggunakan travel (sebutan untuk angkutan mobil pribadi/charteran). Cuma duduk manis di travel sampai ke desa Denge, desa terakhir sebelum mendaki ke desa Wae Rebo. Ah! Kedengarannya kurang asik.

Sebetulnya selain dari Labuhan Bajo, ke Wae Rebo juga bisa ditempuh dari Ruteng, Cuma beberapa penerbangan dari Jakarta mesti transit di Kupang, ngga ada yang langsung ke Ruteng jadi bakal lebih mahal. Labuhan Bajo adalah pilihan tepat untuk ke Wae Rebo.

Setelah menghubungi beberapa nomor telepon yang ada di blog, saya mendapatkan informasi menuju Wae Rebo dari Labuhan Bajo dengan angkutan umum non travel, cara koboi, berganti-ganti kendaraan.

IMG_1206

Pool Gunung Mas

Kalau kamu mau ke Wae Rebo sendirian cara koboi ini bisa menghemat uang banyak, tapi kalau kamu pergi lebih dari 4 orang dan ngga mau repot pindah angkutan, pakai travel dengan tarif 2-3 juta untuk satu trip PP terbilang murah. Jadi 1 orang cuma menghabiskan sekitar Rp. 500.000 PP sampai ke desa Denge. Bandingkan jika kamu pakai cara koboi cuma habis sekitar Rp. 300.000 PP dari Labuhan Bajo sampai Denge.

IMG_1192 2

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, hal pertama yang saya lakukan begitu tiba di bandara Udara Labuhan Bajo adalah menuju pool angkutan umum Gunung Mas di Jl. Raya Sernaru, untuk memastikan jam keberangkatan angkutan Umum Gunung Mas menuju Ende. Pool Gunung Mas lokasinya tidak jauh dari Bandara Komodo.

Angkutan Gunung Mas adalah pilihan murah dan mudah. Angkutan ini punya 2 layanan, Non AC dan AC. Tarif untuk AC Rp. 110.000 dan Rp. 80.000 Non AC dari Jl. Sernaru sampai ke Pela.

Pertigaan Pela

IMG_1249

Pela adalah persimpangan terdekat yang dilalui jalur Angkutan Umum Gunung Mas dari Labuhan Bajo menuju Ende via Ruteng. Perjalanan dari pool Gunung Mas pukul 06:00 dan tiba di Pela pukul 10:00. Jangan kira perjalanan 4 jam itu hanya melalui jalur datar yang tentram dan damai, setengah perjalanan dilalui melalui jalur naik turun bukit yang berkelok-kelok dengan tikungan tajam, sebaiknya sudah sarapan sebelum melakukan perjalanan ini.

Jangan segan untuk menyampaikan kepada supir atau penumpang lain lokasi turun yaitu Pela, mengingat pertigaan ini tidak punya banyak ciri untuk dikenali, terutama buat yang baru menuju ke Wae Rebo.

Di Pela, sembari menunggu oto kayu, kamu bisa menikmati jajanan ringan, terdapat beberapa warung di pinggir jalan yang bisa kamu pilih, selain gorengan dan minuman yang disediakan, mereka juga menyediakan keramahan, kamu bisa ngobrol ringan seputar aktivitas penduduk disitu sampai oto kayu tiba.

Sekitar pukul 10:45 oto kayu yang akan membawa kami ke desa Denge tiba. Jangan bayangkan oto (dalam bahasa Indonesia kendaraan/mobil angkutan) di Flores berbentuk seperti bus transjakarta dengan pintu yang mainstream, kamu salah kalau menduga begitu.

Oto Kayu

64150abd-15e3-47ef-9ba3-eb6e1c0e5cb0

Mobil truk kayu yang disulap menjadi angkutan orang ini tersohor dengan nama oto kayu, bagian tengah truk ini dijejal oleh papan panjang yang menghubungan kedua sisi bak truk ini. Boleh dibilang penumpang sudah penuh ketika tiba di Pela, tapi kernet oto kayu dengan lantang mengatakan kepada kami “masih cukup pak, naik ajah dulu”. Wah, asik nih, dijejal bareng sayur mayur dan beberapa ekor ayam di kaki yang teriak hampir setiap perhentian.

IMG_1252

Perjalanan dengan oto kayu memakan waktu 4 jam dengan tarif Rp. 30.000 sampai desa Denge. Jangan bandingkan kenyamanan menggunakan oto kayu dengan piihan travel charteran yang menggunakan mobil masa kini untuk mencapai desa Denge.

IMG_1262

Oto kayu tentu tanpa AC, tanpa kursi empuk tapi jangan sedih, sepanjang jalan kamu bakal dihibur oleh musik dengan volume yang besaaarrr sekali, jenis musiknya ya sebagian besar lagu-lagu lokal Flores, kadang-kadang lagu dangdut yang sedang heitzz. Dijamin ngga kepengen tidur sepanjang jalan. Alasan untuk ngga bisa tidur juga datang dari beberapa ibu yang membawa anak kecil, ada ajah anak yang nangis di setiap perhentian, asik kan!!!

Banyak sekali pengalaman yang bisa ditemui sepanjang jalan, kamu yang suka foto portrait kehidupan orang lokal, pilihan oto kayu adalah pilihan tepat. Setiap pemberhentian adalah moment untuk mengambil foto mereka. Tapi yang suka foto landscape, wah kesempatan banget untuk mengambil foto-foto indah, salah satunya kamu bakal disuguhi pemandangan pulau Nuca Molas yang bagus bukan kepalang.

nuca molas 2

Nuca Molas, rasanya sejengkal dari hidung

Supir oto kayu yang saya pakai kebetulan adalah keponakan Om Blasius Monta, orang yang paling tersohor di Wae Rebo, jadi tenang deh tempat turunnya nanti sudah pasti pas.

IMG_1279

Blasius Monta

Pukul 3 sore oto kayu tiba di desa Denge, kami diturunkan persis di depan kediaman Om Blasius. Nama Blasius Monta begitu terkenal seantero Ruteng sampai ke Wae Rebo. Guru warga asli Wae Rebo ini adalah pendiri sekolah dasar di desa Denge, pernah menjabat kepala sekolah disitu. Disela kesibukannya, om Blasius banyak sekali membantu dan memberi kemudahan siapa saja yang mau mengunjungi Wae Rebo.

IMG_1285

Museum Wae Rebo di Area Blasius Lodge

Di shelter tempat kami turun dari oto kayu yang juga rumah om Blasius, tersedia penginapan dan museum Wae Rebo. Dia memberdayakan warga sekitar untuk merawat dan menjaga Wae Rebo.

IMG_1287

Blasius Lodge, shelter perhentian oto kayu

Sebelum melakukan pendakian ke Desa Wae Rebo, kami ditawari makan siang. Tentu ngga gratis, 1 porsi mie rebus dengan porsi nasi sesuka hati harganya Rp. 35.000 udah bonus air minum, jangan bilang harga segitu mahal, sebab untuk mendapatkan bahan baku di desa itu tidak semudah di kota tempat kamu hidup sehari-hari.

IMG_1291

Di dalam ruang tunggu Blasius Lodge, rapih, bersih dan menenangkan

Sinyal

Kamu yang tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan sosial media, sebaiknya jangan putuskan untuk pergi ke Wae Rebo! Denge adalah desa terakhir sebelum mendaki ke Wae Rebo, di desa ini cuma ada 1 titik, dan itu kecil sekali titiknya yang hanya bisa menerima sinyal, itu juga dengan syarat menggunakan handphone Nokia jadul. Terus bagaimana di Wae Rebo, ah lupain deh sinyal, handphone cuma berfungsi untuk alat perekam foto, video dan kalkulator, lupain fungsi lain dari hape mahal kamu.

_MG_4739

Yohanes Antar, salah satu penanggung jawab di Blasius Lodge sudah membuktikan hal ini dengan mengganti perangkat handphone yang diletakkan diatas peti kayu dekat Blasius Lodge dengan handphone Samsung, wal hasil sinyal ngga pernah bisa didapat.

_MG_4741

Let’s Start!

_MG_4727

Waktu menunjukkan pukul 15:30 WITA, sudah terlambat sebenernya untuk melakukan pandakian ke Desa Wae Rebo, tapi permohonan kami untuk tetap mendaki hari itu akhirnya direstui. Berbagai nasihat dibacakan, termasuk yang paling sakral adalah ngga boleh melakukan aktivitas pemotretan diatas ketika masuk desa Wae Rebo sebelum upacara penyambutan oleh tetua adat.

Berhubung waktu sudah terlalu sore, maka kami mesti dibantu ojek motor menuju jembatan pertama sampai batas maksimum kendaraan motor bisa tempuh. Untuk ini mesti merogoh kocek lagi lima puluh ribu rupiah per motor. Worth it banget sebab jalan yang ditempuh dengan motor 15 menit ini biasanya ditempuh dalam waktu 1 jam dengan jalan kaki.

This slideshow requires JavaScript.

Jangan kira perjalanan dari titik terakhir motor menuju Desa Wae Rebo ini mulus datar tanpa hambatan ya. Beberapa medan curam bakal ditemui, belum lagi lintah yang kadang gemar hinggap kalau ada rumput tinggi yang kita injak. Hari mulai gelap dan karena habis hujan maka sebagaian besar jalan tanah yang kami lalui cukup licin.

Buat yang baru sekali ke Desa Wae Rebo, saya sarankan untuk menggunakan jasa guide yang disediakan oleh om Blasius, karena banyak sekali persimpangan dan itu berisiko bikin nyasar.

Guide

Guide kami, John berumur 18 tahun. Badannya kurus ramping. Ketika pertama dikenalkan oleh Yohanes Antar, admin di Penginapan Blasius saya agak meragukan, karena kami anggap terlalu pendiam dan kurang asik untuk diajak jalan. Ah! Memang kita ngga boleh menilai orang dari kulit luarnya, John asik banget selama perjalanan. Dia senang menjelaskan berbagai hal yang kami tanyakan tentang Wae Rebo. Dia juga semacam Google Map yang gemar memberitahu ada apa di depan nanti. Seperti informasi sumber mata air yang bisa diminum airnya dan spot foto bagus yang bikin kami merasa pakai navigator Google Map.

_MG_4438

Ini dia John, pemuda Flores yang ramah, asik dan helpfull!

Harga jasa guide yang ditetapkan oleh om Blasius Rp. 200.000 untuk satu trip. Tidak terlalu mahal untuk fungsi yang sangat dibutuhkan. Belum lagi ketika memasuki batas Desa Wae Rebo, guide-lah yang paling tahu bagaimana berkomunikasi dengan penduduk Wae Rebo.

Pendakian hampir 4 jam yang terbilang kami paksakan mengingat hari makin larut, berakhir di pos terdekat Desa Wae Rebo. John dengan sigap memukul 3 kali kentongan yang terbuat dari kayu. Beberapa menit ditunggu tidak ada tanggapan dan dia lakukan sekali lagi. Dari pos itu kita sudah bisa melihat rumah-rumah penduduk Wae Rebo, karena sudah pukul 7 malam dan kabut sudah cukup tebal, kami hanya melihat rumah tanpa background pemandangan. John sempat bilang kalau tidak ada tanggapan dari Desa, mungkin kita tidak diterima karena sudah kemalaman. Yang bisa kita lakukan menunggu di pos ini sampai besok, “waduh, gawat!”. Tadi dibawah memang sudah disampaikan semoga orang Wae Rebo mau menerima karena biasanya mereka ngga mau kalau ada tamu yang tiba terlalu malam. Gundah dan resah menggelantungi tubuh ini.

Welcome to Wae Rebo

Ketukan John yang ketiga sebanyak 3 kali dapat tanggapan, dari kejauhan terlihat beberapa orang keluar rumah dan menyambut ketukan John dengan ketukan yang sama beberapa kali, itu pertanda kami diterima menjadi tamu Desa Wae Rebo malam itu. Senangnya minta ampun, setelah ngebayangin mesti tidur di pos semalaman padahal cuma setitik lagi untuk masuk, ah syukurlah alam semesta mendukung kami untuk mesuk ke Desa Wae Rebo hari itu.

_MG_4498

Ini salah satu spot foto menarik, bisa untuk tarik nafas sebelum melanjutkan perjalanan

Dari pos tadi perjalanan menuju desa kurang lebih 20 menit, medannya juga termasuk yang paling curam, menurun dan sangat licin. Kamu yang bawa kamera mending tutup dan masukan saja ke dalam tas karena probabilitas tergelincir besar sekali. 

Selain demi keselamatan gadget, nasihat untuk tidak boleh foto begitu pintu masuk Desa Wae Rebo sampai upacara adat dilakukan harus kita pegang teguh bahwa semua gadget harus masuk tas.

_MG_4457

Foto ini ngga penting, skip udah lanjut baca lagi

Rasa bahagia, haru, puas, sekaligus bangga campur aduk begitu memasuki gerbang desa ini, apalagi melihat beberapa orang Wae Rebo menyambut kami begitu kami melewati gerbang itu. Ucapan salam yang mereka lontarkan disambut dengan jabat tangan erat yang hangat bikin hati ini meleleh.

IMG_1292

Pucuk-pucuk rumah Wae Rebo dari kejauhan di malam saat kami tiba.

Salah satu diantara mereka ada yang fasih berbahasa Indonesia, dia meminta kami untuk masuk ke salah satu rumah yang besar yang mereka sebut Mbaru Niang untuk upacara penerimaan tamu. Wah, senangnya minta ampun, hilang semua jerih payah yang telah kami mulai sejak pukul 6 pagi tadi.

Selain kami bertiga ada pelancong lain yang juga baru tiba sebelum kami, jadi total pendatang sore itu 7 orang. Suasana sakral terjadi saat upacara penyambutan berlangsung, tetua adat melantunkan pujian-pujian yang saya sama sekali ngga ngerti apa yang dia ucapkan, untungnya ada 1 orang penerjemah yang menyampaikan kepada kami maksud pujian tadi.

_MG_4524

Usai upacara penerimaan oleh tetua di Rumah Besar

Dengan berucap syukur kepada Tuhan Semesta Alam upacara ini dilangsungkan, doa-doa kepada leluhur Wae Rebo yang dilantunkan pada upacara malam itu sangat saya hargai sebagai bagian dari rasa terima kasih kepada leluhur yang telah menyediakan dan menjaga Wae Rebo sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang beragam. 

Selamat menikmati indahnya desa diatas langit, Wae Rebo.

_edited_MG_4596

Obatnya, Ada di Solorempah

TRAVEL

“Mba Ren, seharian iki badanku meriang, perutku juga berasa kembunge’ ngombe apo yo?” keluhan akrab ini bukan terjadi di toko obat, apotek atau bahkan dokter yang biasa mengobati orang sakit di puskesmas. Mba Reni yang ada dibalik partisi sigap menyambung keluhan ini “mungkin, sampeyan masuk angin mas, sek’ aku buatkan wedang jahe yo”

Si penanya lalu manggut tanda mengamini usulan mba Reni, lalu mereka terlibat kelakar ringan seputar penyakit dan khasiat rempah yang banyak Tuhan limpahkan di negeri ini. Suasana menjadi senyap sejenak karena Reni mulai mengerjakan pesanan untuk pelanggannya dari balik dapur yang sudah terdapat beraneka ragam rempah di malam yang dingin itu di Solo.

_edited_2_MG_4111

Rempah ngga bisa dipisahkan dari kejayaan Indonesia masa lampau, walaupun masyarakat dunia lebih mengenal jalur sutera, sesungguhnya jalur rempah banyak memberi kontribusi bagi peradaban masyarakat dunia, dan kita bangsa Indonesia jadi bagian penting atas sejarah rempah yang banyak mengubah peradaban itu.

_edited_MG_4124

Sebetulnya jauh sebelum masehi rempah sudah jadi komoditas penting dunia, rempah sudah diperdagangkan berabad lamanya sebelum masehi. Perdagangan ini menempuh Asia Selatan hingga Timur tengah dan Eropa, dilakukan oleh pedagang Arab dan Cina. Di masa itu rempah miliki peranan penting bagi kehidupan, mulai dari urusan citarasa masakan, menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, hingga bahan utama untuk mengawetkan mayat.

_MG_4100

Bukan tanpa alasan kalau malam itu Reni, yang sudah tahu banyak khasiat rempat menyodorkan wedang jahe ke pelanggannya yang mengeluh akibat masuk angin. Tentu bukan cuma pelanggan itu yang berkeluh kesah ke Mba Reni atas atas kebugaran yang mulai menurun. Tiga jam nongkrong di cafe Solorempah (IG: @solorempah), di Jl. Lumban Tobing, Setabelan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah (https://g.co/kgs/BkSfJv)  rasanya masih belum cukup menikmati hangatnya wedang dan berbagai jajanan lawas yang tersedia sembari ditemani sajian musik yang dimainkan beberapa orang yang ada di sisi luar cafe ini yang sengaja latihan menyambut reriaan yang bakal di gelar Malam Tahun Baru 2018 disini.

_MG_4115

_MG_4107Gimana mau ngga betah, selain musik hidup yang bermain tiada henti, di dalam cafe Solorempah ini rupanya juga ada pernak-pernik unik yang dibikin dari material recycled. Ngga cuma bisa dinikmati selagi kita ada di dalam cafe Solorempah, barang-barang itu bisa kita miliki alias dijual dengan harga yang pas untuk kantong anak muda.

_MG_4127

Pencipta barang-barang unik itu namanya Angga (IG: @oemahgondangart) dia pengembara dunia seni yang ngga dapat setuju dari orang tua atas pilihan hidupnya. Sarjana IPB jurusan Nutrisi Ternak ini pernah bekerja di institusi pemetaan, tapi ngga betah. Dia punya cara sendiri untuk dikeluarkan dari kantor tempat dia bekerja dengan cara mentato tangannya. Perkara tato inilah yang ‘menolong’ dia. Perusahaan tempat dia bekerja akhirnya mengeluarkan dia dan Angga berhasil menjadi manusia bebas seutuhnya (Lol).

WhatsApp Image 2017-12-30 at 12.03.07 AM

Bukan cerita film belaka, kenapa? Setelah menentukan pilihan hidup menjadi orang seni dan tentu atas tekad, kreatifitas dan kegigihannya itu, Angga dan team yang ada di Solorempah pernah mendapat anugerah Inacraft Award 2017 Kategori Best Prize In Category Wood, keren kan. Malam itu istri gua yang ikut bersama menikmati wedang di Solorempah menghabiskan banyak sekali waktunya untuk ngobrol bareng Angga di ruang kerjanya, sementara gua? Gua asik ngobrol sama mba Reni sesekali ambil foto dan video.

_MG_4142

Dari hasil cerita istri gua dengan Angga malam itu, katanya Angga juga pernah diundang ke Nepal untuk urusan kerajinan kayu dan material recycled. Kalau bukan malam libur panjang begini, di Solorempah kita bisa ngopi bareng bule-bule asal Slovakia, Polandia, Amerika, Belanda dll yang sengaja datang untuk menikmati hangatnya wedang sembari mereka belajar kerajinan kayu ke Angga. Mereka adalah mahasiswi Institute Seni Indonesia Surakarta dan Akademi Seni dan Desain Indonesia Surakarta.

_MG_4146

Ide cafe yang menyajikan rempah belum terlalu banyak gua jumpai di beberapa daerah yang gua kunjungi apalagi dipadu dengan kerajinan kayu yang memanfaatkan bahan-bahan yang sudah tidak terpakai. Berkesempatan dateng ke cafe Solorempah tentu jadi kesan tersendiri, betapa negeri ini banyak sekali dititipkan kekayaan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Meminjam instilah Angga sebelum pamitan untuk meninggalkan tempat ini, “perkara ini (rempah) negeri kita jadi bulan-bulanan bangsa Eropa selama ratusan tahun Mas”.

_MG_4117Batapa Tuhan itu Maha Baik bagi bangsa ini. Dengan kebaikan-Nya semoga Dia juga berikan kita banyak mba Reni-Mba Reni dan Mas Anga lain yang mau terus memanfaatkan kekayaan alam tanpa merusaknya.