Superman itu Bernama Suku Osing

TRAVEL

Sewaktu jalan-jalan ke Banyuwangi, seorang yang saya kenal di jalan bercerita tentang suku asli Banyuwangi. Menurutnya saat pengusiran orang Hindu Majapahit oleh pasukan muslim, ada 3 suku yang pergi meninggalkan kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan. 

Ketiga golongan yang pergi itu, 1 menyeberang ke timur pulau jawa menuju pulau Bali yang kini dikenal sebagai orang Bali Daratan yang banyak memengaruhi pola kehidupan Bali seperti Ngaben. orang Bali sebelum datangnya pendatang ini yang disebut Bali Age dan tidak menjalankan upacara Ngaben. 

kelompok ke-2 pergi ke Gunung Bromo dan kita mengenalnya sebagai suku Tengger, bila kau pergi ke bromo kau akan temui pura Hindu disana sebagai bukti ketaatan Suku Tengger sejak dulu.

kelompok ke-3 pergi ke pegunungan Ijen, mereka menyebut dirinya orang Osing. Orang Osing terkenal sangat kuat dan sangat ditakuti bahkan oleh penjajah Belanda. Beberapa literatur yang terbit di Amerika pernah menyebut suku Osing sebagai “Hercules from Asia”.

Saat saya pergi ke Ijen untuk pertama kali pada tahun 2001, saya melihat sendiri bukti kekuatan orang Osing memikul puluhan kilo belerang dari kawah belerang seluas 54 hektar dan mendaki gunung ijen di ketinggian 2.300 meter diatas permukaan laut kadang tanpa alas kaki. Aktivitas ini menjadi mata pencarian sebagian besar Suku Osing.

Waktu balik ke Ijen lagi tahun 2019, aktivitas ini udah mulai hilang, Orang Ijen yang sekuat Hercules itu sudah tidak lagi mengangkat beban belerang. Kini mereka mengangkat siapa saja yang mau mendaki ijen seperti becak gunung. sayangnya saya ngga sempat foto terkini mereka.

Disini Anak Krakatau Disana Rakata

TRAVEL

Disana RakataSisa digdaya letusan Gunung Krakatau tahun 1883 tampak jelas dimuka, Gunung Rakata. Sementara tempat saya berdiri, Anak Krakatau yang “lahir” tahun 1927 itu kini sudah setinggi 400 meter, itu berarti setiap tahun si bayi ini naik 3 meter dari permukaan laut. Sesekali tampak hembusan awan panas di kawah yang dibatasi oleh semacam laguna, tanda pendaki tidak boleh meneruskan perjalan menuju puncak. Berjalan di gunung yang hampir sepenuhnya pasir panas dan belerang ini rasanya seperti jalan di sisa bakaran api unggun, tandus, panas dan kering menyengat. cobalah!