Wae Rebo: Cara Asik Menempuh Dari Labuhan Bajo

TRAVEL

“Wae Rebo? Apaan tuh!” lontaran teman ketika saya tawari untuk menyambangi desa di atas langit di Flores. Mulanya mereka berpikir kalau selagi di Flores destinasi utama adalah Pulau Rinca, Pulau Padar, Pink Beach dan sekitarnya. Tapi begitu saya sajikan beberapa foto Wae Rebo, sontak mereka melupakan pulau-pulau yang sempat jadi cita-cita. “Ok Bro! Udah Wae Rebo nyok!!”

Minimnya informasi dan ketersediaan angkutan umum dari Labuhan Bajo ke Wae Rebo, bikin galau dan hampir memudarkan niat untuk ke Wae Rebo waktu itu. Beberapa blog memang menjelaskan cara termudah ke Wae Rebo dengan menggunakan travel (sebutan untuk angkutan mobil pribadi/charteran). Cuma duduk manis di travel sampai ke desa Denge, desa terakhir sebelum mendaki ke desa Wae Rebo. Ah! Kedengarannya kurang asik.

Sebetulnya selain dari Labuhan Bajo, ke Wae Rebo juga bisa ditempuh dari Ruteng, Cuma beberapa penerbangan dari Jakarta mesti transit di Kupang, ngga ada yang langsung ke Ruteng jadi bakal lebih mahal. Labuhan Bajo adalah pilihan tepat untuk ke Wae Rebo.

Setelah menghubungi beberapa nomor telepon yang ada di blog, saya mendapatkan informasi menuju Wae Rebo dari Labuhan Bajo dengan angkutan umum non travel, cara koboi, berganti-ganti kendaraan.

IMG_1206

Pool Gunung Mas

Kalau kamu mau ke Wae Rebo sendirian cara koboi ini bisa menghemat uang banyak, tapi kalau kamu pergi lebih dari 4 orang dan ngga mau repot pindah angkutan, pakai travel dengan tarif 2-3 juta untuk satu trip PP terbilang murah. Jadi 1 orang cuma menghabiskan sekitar Rp. 500.000 PP sampai ke desa Denge. Bandingkan jika kamu pakai cara koboi cuma habis sekitar Rp. 300.000 PP dari Labuhan Bajo sampai Denge.

IMG_1192 2

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, hal pertama yang saya lakukan begitu tiba di bandara Udara Labuhan Bajo adalah menuju pool angkutan umum Gunung Mas di Jl. Raya Sernaru, untuk memastikan jam keberangkatan angkutan Umum Gunung Mas menuju Ende. Pool Gunung Mas lokasinya tidak jauh dari Bandara Komodo.

Angkutan Gunung Mas adalah pilihan murah dan mudah. Angkutan ini punya 2 layanan, Non AC dan AC. Tarif untuk AC Rp. 110.000 dan Rp. 80.000 Non AC dari Jl. Sernaru sampai ke Pela.

Pertigaan Pela

IMG_1249

Pela adalah persimpangan terdekat yang dilalui jalur Angkutan Umum Gunung Mas dari Labuhan Bajo menuju Ende via Ruteng. Perjalanan dari pool Gunung Mas pukul 06:00 dan tiba di Pela pukul 10:00. Jangan kira perjalanan 4 jam itu hanya melalui jalur datar yang tentram dan damai, setengah perjalanan dilalui melalui jalur naik turun bukit yang berkelok-kelok dengan tikungan tajam, sebaiknya sudah sarapan sebelum melakukan perjalanan ini.

Jangan segan untuk menyampaikan kepada supir atau penumpang lain lokasi turun yaitu Pela, mengingat pertigaan ini tidak punya banyak ciri untuk dikenali, terutama buat yang baru menuju ke Wae Rebo.

Di Pela, sembari menunggu oto kayu, kamu bisa menikmati jajanan ringan, terdapat beberapa warung di pinggir jalan yang bisa kamu pilih, selain gorengan dan minuman yang disediakan, mereka juga menyediakan keramahan, kamu bisa ngobrol ringan seputar aktivitas penduduk disitu sampai oto kayu tiba.

Sekitar pukul 10:45 oto kayu yang akan membawa kami ke desa Denge tiba. Jangan bayangkan oto (dalam bahasa Indonesia kendaraan/mobil angkutan) di Flores berbentuk seperti bus transjakarta dengan pintu yang mainstream, kamu salah kalau menduga begitu.

Oto Kayu

64150abd-15e3-47ef-9ba3-eb6e1c0e5cb0

Mobil truk kayu yang disulap menjadi angkutan orang ini tersohor dengan nama oto kayu, bagian tengah truk ini dijejal oleh papan panjang yang menghubungan kedua sisi bak truk ini. Boleh dibilang penumpang sudah penuh ketika tiba di Pela, tapi kernet oto kayu dengan lantang mengatakan kepada kami “masih cukup pak, naik ajah dulu”. Wah, asik nih, dijejal bareng sayur mayur dan beberapa ekor ayam di kaki yang teriak hampir setiap perhentian.

IMG_1252

Perjalanan dengan oto kayu memakan waktu 4 jam dengan tarif Rp. 30.000 sampai desa Denge. Jangan bandingkan kenyamanan menggunakan oto kayu dengan piihan travel charteran yang menggunakan mobil masa kini untuk mencapai desa Denge.

IMG_1262

Oto kayu tentu tanpa AC, tanpa kursi empuk tapi jangan sedih, sepanjang jalan kamu bakal dihibur oleh musik dengan volume yang besaaarrr sekali, jenis musiknya ya sebagian besar lagu-lagu lokal Flores, kadang-kadang lagu dangdut yang sedang heitzz. Dijamin ngga kepengen tidur sepanjang jalan. Alasan untuk ngga bisa tidur juga datang dari beberapa ibu yang membawa anak kecil, ada ajah anak yang nangis di setiap perhentian, asik kan!!!

Banyak sekali pengalaman yang bisa ditemui sepanjang jalan, kamu yang suka foto portrait kehidupan orang lokal, pilihan oto kayu adalah pilihan tepat. Setiap pemberhentian adalah moment untuk mengambil foto mereka. Tapi yang suka foto landscape, wah kesempatan banget untuk mengambil foto-foto indah, salah satunya kamu bakal disuguhi pemandangan pulau Nuca Molas yang bagus bukan kepalang.

nuca molas 2

Nuca Molas, rasanya sejengkal dari hidung

Supir oto kayu yang saya pakai kebetulan adalah keponakan Om Blasius Monta, orang yang paling tersohor di Wae Rebo, jadi tenang deh tempat turunnya nanti sudah pasti pas.

IMG_1279

Blasius Monta

Pukul 3 sore oto kayu tiba di desa Denge, kami diturunkan persis di depan kediaman Om Blasius. Nama Blasius Monta begitu terkenal seantero Ruteng sampai ke Wae Rebo. Guru warga asli Wae Rebo ini adalah pendiri sekolah dasar di desa Denge, pernah menjabat kepala sekolah disitu. Disela kesibukannya, om Blasius banyak sekali membantu dan memberi kemudahan siapa saja yang mau mengunjungi Wae Rebo.

IMG_1285

Museum Wae Rebo di Area Blasius Lodge

Di shelter tempat kami turun dari oto kayu yang juga rumah om Blasius, tersedia penginapan dan museum Wae Rebo. Dia memberdayakan warga sekitar untuk merawat dan menjaga Wae Rebo.

IMG_1287

Blasius Lodge, shelter perhentian oto kayu

Sebelum melakukan pendakian ke Desa Wae Rebo, kami ditawari makan siang. Tentu ngga gratis, 1 porsi mie rebus dengan porsi nasi sesuka hati harganya Rp. 35.000 udah bonus air minum, jangan bilang harga segitu mahal, sebab untuk mendapatkan bahan baku di desa itu tidak semudah di kota tempat kamu hidup sehari-hari.

IMG_1291

Di dalam ruang tunggu Blasius Lodge, rapih, bersih dan menenangkan

Sinyal

Kamu yang tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan sosial media, sebaiknya jangan putuskan untuk pergi ke Wae Rebo! Denge adalah desa terakhir sebelum mendaki ke Wae Rebo, di desa ini cuma ada 1 titik, dan itu kecil sekali titiknya yang hanya bisa menerima sinyal, itu juga dengan syarat menggunakan handphone Nokia jadul. Terus bagaimana di Wae Rebo, ah lupain deh sinyal, handphone cuma berfungsi untuk alat perekam foto, video dan kalkulator, lupain fungsi lain dari hape mahal kamu.

_MG_4739

Yohanes Antar, salah satu penanggung jawab di Blasius Lodge sudah membuktikan hal ini dengan mengganti perangkat handphone yang diletakkan diatas peti kayu dekat Blasius Lodge dengan handphone Samsung, wal hasil sinyal ngga pernah bisa didapat.

_MG_4741

Let’s Start!

_MG_4727

Waktu menunjukkan pukul 15:30 WITA, sudah terlambat sebenernya untuk melakukan pandakian ke Desa Wae Rebo, tapi permohonan kami untuk tetap mendaki hari itu akhirnya direstui. Berbagai nasihat dibacakan, termasuk yang paling sakral adalah ngga boleh melakukan aktivitas pemotretan diatas ketika masuk desa Wae Rebo sebelum upacara penyambutan oleh tetua adat.

Berhubung waktu sudah terlalu sore, maka kami mesti dibantu ojek motor menuju jembatan pertama sampai batas maksimum kendaraan motor bisa tempuh. Untuk ini mesti merogoh kocek lagi lima puluh ribu rupiah per motor. Worth it banget sebab jalan yang ditempuh dengan motor 15 menit ini biasanya ditempuh dalam waktu 1 jam dengan jalan kaki.

This slideshow requires JavaScript.

Jangan kira perjalanan dari titik terakhir motor menuju Desa Wae Rebo ini mulus datar tanpa hambatan ya. Beberapa medan curam bakal ditemui, belum lagi lintah yang kadang gemar hinggap kalau ada rumput tinggi yang kita injak. Hari mulai gelap dan karena habis hujan maka sebagaian besar jalan tanah yang kami lalui cukup licin.

Buat yang baru sekali ke Desa Wae Rebo, saya sarankan untuk menggunakan jasa guide yang disediakan oleh om Blasius, karena banyak sekali persimpangan dan itu berisiko bikin nyasar.

Guide

Guide kami, John berumur 18 tahun. Badannya kurus ramping. Ketika pertama dikenalkan oleh Yohanes Antar, admin di Penginapan Blasius saya agak meragukan, karena kami anggap terlalu pendiam dan kurang asik untuk diajak jalan. Ah! Memang kita ngga boleh menilai orang dari kulit luarnya, John asik banget selama perjalanan. Dia senang menjelaskan berbagai hal yang kami tanyakan tentang Wae Rebo. Dia juga semacam Google Map yang gemar memberitahu ada apa di depan nanti. Seperti informasi sumber mata air yang bisa diminum airnya dan spot foto bagus yang bikin kami merasa pakai navigator Google Map.

_MG_4438

Ini dia John, pemuda Flores yang ramah, asik dan helpfull!

Harga jasa guide yang ditetapkan oleh om Blasius Rp. 200.000 untuk satu trip. Tidak terlalu mahal untuk fungsi yang sangat dibutuhkan. Belum lagi ketika memasuki batas Desa Wae Rebo, guide-lah yang paling tahu bagaimana berkomunikasi dengan penduduk Wae Rebo.

Pendakian hampir 4 jam yang terbilang kami paksakan mengingat hari makin larut, berakhir di pos terdekat Desa Wae Rebo. John dengan sigap memukul 3 kali kentongan yang terbuat dari kayu. Beberapa menit ditunggu tidak ada tanggapan dan dia lakukan sekali lagi. Dari pos itu kita sudah bisa melihat rumah-rumah penduduk Wae Rebo, karena sudah pukul 7 malam dan kabut sudah cukup tebal, kami hanya melihat rumah tanpa background pemandangan. John sempat bilang kalau tidak ada tanggapan dari Desa, mungkin kita tidak diterima karena sudah kemalaman. Yang bisa kita lakukan menunggu di pos ini sampai besok, “waduh, gawat!”. Tadi dibawah memang sudah disampaikan semoga orang Wae Rebo mau menerima karena biasanya mereka ngga mau kalau ada tamu yang tiba terlalu malam. Gundah dan resah menggelantungi tubuh ini.

Welcome to Wae Rebo

Ketukan John yang ketiga sebanyak 3 kali dapat tanggapan, dari kejauhan terlihat beberapa orang keluar rumah dan menyambut ketukan John dengan ketukan yang sama beberapa kali, itu pertanda kami diterima menjadi tamu Desa Wae Rebo malam itu. Senangnya minta ampun, setelah ngebayangin mesti tidur di pos semalaman padahal cuma setitik lagi untuk masuk, ah syukurlah alam semesta mendukung kami untuk mesuk ke Desa Wae Rebo hari itu.

_MG_4498

Ini salah satu spot foto menarik, bisa untuk tarik nafas sebelum melanjutkan perjalanan

Dari pos tadi perjalanan menuju desa kurang lebih 20 menit, medannya juga termasuk yang paling curam, menurun dan sangat licin. Kamu yang bawa kamera mending tutup dan masukan saja ke dalam tas karena probabilitas tergelincir besar sekali. 

Selain demi keselamatan gadget, nasihat untuk tidak boleh foto begitu pintu masuk Desa Wae Rebo sampai upacara adat dilakukan harus kita pegang teguh bahwa semua gadget harus masuk tas.

_MG_4457

Foto ini ngga penting, skip udah lanjut baca lagi

Rasa bahagia, haru, puas, sekaligus bangga campur aduk begitu memasuki gerbang desa ini, apalagi melihat beberapa orang Wae Rebo menyambut kami begitu kami melewati gerbang itu. Ucapan salam yang mereka lontarkan disambut dengan jabat tangan erat yang hangat bikin hati ini meleleh.

IMG_1292

Pucuk-pucuk rumah Wae Rebo dari kejauhan di malam saat kami tiba.

Salah satu diantara mereka ada yang fasih berbahasa Indonesia, dia meminta kami untuk masuk ke salah satu rumah yang besar yang mereka sebut Mbaru Niang untuk upacara penerimaan tamu. Wah, senangnya minta ampun, hilang semua jerih payah yang telah kami mulai sejak pukul 6 pagi tadi.

Selain kami bertiga ada pelancong lain yang juga baru tiba sebelum kami, jadi total pendatang sore itu 7 orang. Suasana sakral terjadi saat upacara penyambutan berlangsung, tetua adat melantunkan pujian-pujian yang saya sama sekali ngga ngerti apa yang dia ucapkan, untungnya ada 1 orang penerjemah yang menyampaikan kepada kami maksud pujian tadi.

_MG_4524

Usai upacara penerimaan oleh tetua di Rumah Besar

Dengan berucap syukur kepada Tuhan Semesta Alam upacara ini dilangsungkan, doa-doa kepada leluhur Wae Rebo yang dilantunkan pada upacara malam itu sangat saya hargai sebagai bagian dari rasa terima kasih kepada leluhur yang telah menyediakan dan menjaga Wae Rebo sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang beragam. 

Selamat menikmati indahnya desa diatas langit, Wae Rebo.

_edited_MG_4596

Selagi di Gianyar, Mampir Dulu Lah Ke Hidden Canyon

TRAVEL

Kayaknya wisata canyon lagi marak di beberapa daerah di dunia, termasuk Indonesia. Beberapa daerah yang punya spot bekas aliran sungai purba apalagi yang sudah berjamur dan punya bebatuan terjal, buru-buru deh pemerintah daerahnya klaim sudah punya canyon!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Canyon atau sudah di-Indonesiakan menjadi Kanyon /ka·nyon/ n bermakna lembah yang sempit dan dalam dengan tepi yang terjal, biasanya ada sungai yang mengalir di dasarnya; jurang.

Nah, ciri-ciri kanyon sesuai KBBI itu juga ada di Gianyar, Bali, konon baru setahun ini ditemukan, penduduk sekitar yang gembira dengan penemuan sisa sungai purba kala itu menyebutnya Hidden Canyon, keren juga yaa!

Berada di area Sungai/Beji Guwang dekat Pura Dalem Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali, kata beji sendiri merupakan kata dalam bahasa Bali yang memiliki arti sungai yang dianggap suci. Sungai ini memang dianggap suci karena terdapat beberapa sumber mata air suci.

Beji Guwang memiliki sebuah aliran sungai yang diapit oleh tebing tajam di samping kanan dan kirinya. Air sungai bening berwarna kebiruan dengan ornamen batu kali hitam kecoklatan. Ngga banyak ditemukan lumut di wilayah yang lembab dengan pemandangan menakjubkan ini. .

canyon-4

Lima menit pertama sudah ketemu medan ini, jangan sok tahu dengan ambil jalur sendiri, nurut ajah sama Bli Guide kalau ngga mau tergelincir

Menuju Hidden Canyon terbilang ngga begitu sulit, walaupun besar kemungkinan terlewat karena (saat gua kesana) tandanya cuma plank print out dari bahan fleksi Cina murahan yang ditempel di tempok , buat yang baru sekali atau dua kali ke tempat ini kayaknya mesti kelewat dulu jalan masuk menuju canyon, baru keliatan tuh tanda dan ya mesti putar balik. Letaknya tidak jauh dari Pasar Seni Sukawati, Gianyar, jadi mesti sudah pasang mata selepas pasar Gianyar, atau di Google Maps juga ada kok, selow.

 

Tarif menelusuri Hidden masih terbilang murah, cuma Rp. 10.000 tapi yang mahal adalah dibutuhkan stamina baik dan waras sebab butuh waktu 3 jam lebih untuk melampaui canyon yang terbagi menjadi 3 area ini. Disarankan untuk menggunakan jasa guide yang tersedia, mengingat terlalu banyak jalur yang belum umum digunakan. Paparan terjal dan licin sepanjang jalan dari mula canyon hingga akhir ditambah gesture yang naik turun bersiko tergelincir bila salah melangkah.

Di muka pembayaran tiket, petugas sudah akan menawarkan untuk menggunakan jasa guide, seperti biasa,  gua sih jual mahal dulu, pura-pura udah pernah dan pura-pura ngerti, eh ngga lebih dari 3 menit turun menuju canyon udah nyasar. Terus lihat kanal panjang dengan tebing curam begitu, akhirnya nyerah juga saat guide lokal yang menawarkan untuk menggunakan jasa dia. Tawar menawar ngga terlalu ribet macem di tanah abang, mulanya dia mau gua bayar Rp. 30.000 etapi pas sampai akhir perjalanan, ngga tega juga bayar segitu. Gua senang, bayar gocap ngga jadi masalah.

Sebelum memulai perjalanan, guide sudah mengingatkan untuk melepas alas kaki, jadi perjalanan sepanjang kurang lebih 3 kilo degan berbagai medan ini harus dilampaui dengan tanpa alas kaki. Semua perjuangan ini terbalas dengan pemandangan yang sangat mengagumkan dari setiap titik yang kita lewati, ini luar biasa dan cukup memacu adrenalin, terpeleset sedikit bukan cuma jadi borok ini, patah tulang atau kepala pecah bisa mengingat bebatuan masiv terjal bakal menyambut kita dibawah.

Oh iya tentang dokumentasi no worry, guide juga sudah punya patern lokasi untuk mengabadikan foto sepanjang canyon, hanya yang patut menjadi perhatian cek hasil foto yang mereka ambil, maklum gua mengalami hampir semua foto yang mereka ambil melalu smartphone 98,5% buram, LoL. Oh iya coba-coba jalan melipir jurang dengan posisi gawai di tangan ya, sebab setiap saat resiko jatuh bisa terjadi, dan pastikan gawai juga masuk ke dalam plastik atau gunakan tas yang yang anti air bila resiko terjebur terjadi.

img_3018

Medannya ngga cuma karang terjal, sesekali mesti nyebur juga. Untung bawa model yang serba mau ini, LoL

Medan yang dilalui juga ngga melulu air dan tebing terjal, sesekali harus melewati genangan air setinggi paha orang dewasa, jadi jangan sampai salah konstum ke tempat ini. Sebaiknya pastikan bawa pakaian ganti untuk yang akan melakukan perjalanan ke destinasi lain selepas destinasi ini.

 

canyon-2

Bukan lebay, cara jalan begitu memang dilakukan semua orang sebab tapak untuk melangkah adalah batu dengan permukaan terjal

Akhir dari canyon ketiga bukan berarti akhir dari perjalanan ini, kita masih akan terus melintas jalan naik turun dengan anak-anak sungai kecil diantara rerumputan kering dan perbukitan. Jangan buru-buru, beberapa perbukitan ini menyediakan akar tali yang panjang, nikmatin bergelantungan diantara tali-tali itu atau bisa juga gunakan tali akar untuk memanjat ke atas tebing, kalau berani…

 

img_3046

Selepas canyon ketiga, udah ngga ada basah-basah lagi

Selepas main tali akar itu sudah selesai perjalan? BELUM hahahah, masihpanjang perjalanan. Kita akan melewati kebun pepaya, jenisnya Pepaya Hawaii, ada yang baru dengar? pepayanya kecil-kecil tapi manisnya aduhai, mampir lah ke beberapa gazebo yang menyediakan air minum diatara kebun Pepaya Hawai ini, kalau beruntung penjaga gazebo akan ambilkan pepaya ini, gratis!

 

canyon-3Hamparan padang rumput luas menemani perjalanan menuju parkiran, ada Mini Zoo juga sebelum mengakhiri Hidden Canyon, tapi gua pilih ngga mampir, selain panas terik juga mesti pergi ke beberapa destinasi lain. Sebelum banyak yang bercerita tentang Hidden Canyon, tempat ini patut dijajal, setidaknya you guys jadi generasi pertama yang menceritakan tempat wisata baru ini, seru kan? Seru! tapi bakal ngga jadi seru kalau pergi ke tempat ini menyisakan sampah bekas makanan atau minuman kemasan, you guys jangan buang sampah di tempat ini yaa, bawa keluar sampahmu, di parkiran mereka menyediakan tempat sampah kok!

img_3070