Bukan Elang

MOVIE
credit photo: tranikovstudio

“Berharaplah akan sesuatu hal bahkan terhadap hal yang tidak ada dasar untuk kamu berharap akan hal tersebut”

Gadis yang saat itu baru menginjak usia 18 tahun mungkin tidak pernah tahu isi salah satu firman Tuhan yang tertera pada salah satu kitab-Nya di atas, yang ia tahu hanya lah bagaimana dalam hidup yang sekali ini bisa seperti elang yang bisa mencicipi rasa hinggap di berbagai belahan bumi tanpa rasa takut. 

Pilihan untuk menjadi penakut dan pemberani terhampar di hadapan. Sebuah pilihan untuk terbang mengarungi garis cakrawala berbenturan dengan pilihan bertelur seperti seekor ayam yang memiliki sayap tapi tidak mampu terbang tinggi. 

Seorang yang teguh dan keras dengan pendirian dan harapan itu kini telah menjalani lebih dari setengah hidupnya menjadi apa yang pernah ia harapkan. Namun pilihan ya tetap pilihan, bukan pilihan namanya kalau memilih salah satu, punya konsekuensi yang sama dengan pilihan yang lainnya. 

Memilih pilihan terbang tinggi sesuai apa yang pernah diharapkan pernah meluluhlantakkan harapannya yang lain. Seekor ayam yang memilih untuk bertelur tentulah memiliki kesenangan tersendiri dibanding seekor elang yang terbang hingga ke ujung buana. 

Harapan itu kini masih dinikmati oleh anak yang pernah tahu bagaimana cara membuat harapan itu terjadi, bila dalam pilihan itu ada risiko, itu bukan bagian dari skenario ini, tapi mungkin itu adalah cara Tuhan untuk bilang bahwa “Aku tidak bisa memberi semua pilihan dengan risiko yang sama” 

Saya langsung ingat apa yang pernah dibilang Letnan Kolonel Frank Slade (Al Pacino) kepada Charlie Simms (Chris O’Donnell) dalam film Scent of a Woman tahun 1992: Belajar Tango lebih mudah dari pada hidup. Bila kamu salah melakukan gerakan di Tango lanjutkan saja, tapi tidak begitu di kehidupan.