Iklim Bergejolak, Teknologi Jangan Ditolak

NATURE

Manusia yang hidup ribuan tahun lalu tidak pernah mengira bahwa kelak, keturunan mereka akan mengalami masalah dengan perubahan iklim. Nenek moyang petani merasakan hal yang sama dari ratusan tahun ke ratusan tahun berikutnya. Tidak ada yang berubah dan tidak ada yang dikhawatirkan tentang perubahan iklim, yang mereka takutkan di lahan pertanian hanyalah hama yang hampir selalu berhasil ditebas setiap kedatangannya.

 

Kondisi alam yang selalu sama pada setiap periode tanam menghasilkan akumulasi preseden hingga lahir kebudayaan bercocok tanam yang nampaknya akurat dengan variabel iklim yang relatif sama, nenek moyang mewarisi kebiasaan yang bernama kebudayaan itu hingga kini. Tidak ada hal baru dan tidak ada cara baru hingga ledakan jumlah penduduk terus terjadi.

 

Sayangnya planet bumi yang kecil di belantika antariksa ini tidak pernah membesar untuk menyediakan lahan yang cukup bagi penduduknya yang terus bertambah. Dngan keanekaragam penduduk yang semakin banyak,  bumi mulai kewalahan dengan perilaku manusia dalam memproduksi sampah ke lapisan terluarnya. Bumi makin berat dengan beban tanggungan dan ancaman dari dalam bumi sendiri. Penduduk yang dahulu tidak terlampau pintar menghasilkan racun telah berganti dengan penduduk pintar yang pandai menghasilkan racun seperti karbon dioksida dan zat sejenisnya.

 

Awal abad ini manusia diingatkan bumi atas segala perbuatan yang mengacuhkan batas kemampuan bumi terhadap racun yang mereka hasilkan. Proses pemanasan permukaan benda langit karena komposisi dan keadaan lapisan terluar yang menyebabkan peningkatan konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) pada lapisan terluar bumi ini telah dipelajari oleh seorang fisikawan Perancis. Pada tahun 1824 Jean Baptiste Joseph Fourier mengemukakan teori dengan istilah yang hingga saat ini masih terdengar keren yaitu Efek Rumah Kaca.

 

Istilah efek rumah kaca memang terdengar keren, tapi dibalik istilah ini tersimpan banyak sekali dampak buruk bagi 8 miliar penduduk bumi. Pemanasan global akibat efek rumah kaca ini sungguh berdampak besar pada berbagai sisi kehidupan, dan pertanian lah salah satu yang banyak menerima dampak ini. Semua pola dan kebudayaan yang pernah diwariskan oleh nenek moyang kini hampir tidak bisa lagi menebas dampak pemanasan global.

 

Naiknya suhu permukaan bumi menyebabkan terjadinya kekacauan pola musim. Cuaca yang tidak menentu membuat petani sulit memperkirakan waktu mengelola lahan dan memanen. Akibat perubahan iklim ini juga fenomena musim hujan cenderung lebih pendek. Di sisi lain, musim kemarau yang lebih panjang telah meningkatkan berbagai bencana bagi sektor pertanian.

 

Di Lombok Timur, nenek moyang mereka pernah menciptakan sebuah pola tanam yang dibangun berdasarkan hitungan hari baik, mereka menyebutnya Wariga. Budaya Wariga berkeyakinan benda-benda alam seperti matahari, bulan, bintang, dan benda benda angkasa lainnya mempunyai pengaruh dalam kehidupan dan ikut menentukan kehidupan sehari-hari, termasuk pertanian. Wariga yang mereka terapkan mengabaikan apa yang oleh Jean Baptiste Joseph Fourier perhitungkan. Wariga menghitung berdasarkan konstelasi statis bulan, bintang dan matahari di luar atmosfir tanpa memperhatikan kondisi di dalam atmosfir yang sudah banyak berubah akibat efek rumah kaca. Selama ratusan tahun tata cara tanam yang digunakan oleh orang Sasak di Lombok Timur ini hampir tidak ada masalah.

FullSizeRender (1)

Teknologi sederhana pengukur curah hujan

Kondisi perubahan curah hujan yang berdampak pada perubahan pola tanam dan tentu terhadap penghasilan petani karena gagal panen yang kerap terjadi menyita perhatian seorang ahli dari Universitas Wageningen Belanda, Professor Emeritus Kees Stigter. Ahli tanaman yang menggeluti bidang ilmu microclimate ini menghitung secara detail pengaruh kondisi cuaca pada setiap lahan pertanian. Metodologi ilmiah yang dilakukan Prof. Kees pada pertanian di Lombok Timur memadukan kondisi tanah dengan curah hujan yang semakin random.

 

Sayangya teknologi pertanian yang disampaikan oleh Prof. Kees tidak begitu saja diterima oleh penduduk yang selama ini mengagungkan kebiasaan lama dengan dalih tidak ingin melawan budaya nenek moyang. Ilmu pengetahuan hasil olah pikir dan dilakukan berdasarkan metodologi ilmiah ini dianggap sebagai mercusuar yang sulit digapai oleh para pelaku pertanian. Teknologi dianggap momok yang sulit diterapkan dengan terminologi barat yang jauh dari istilah sehari-hari petani. Satu sisi petani di Lombok Timur mengalami masa sulit kerena perubahan iklim dan penerapan budaya bercocok tanam yang jauh dari hasil memuskan di sisi lain mereka menganggap teknologi sebagai sebuah mercusuar tinggi yang sulit untuk diterjemahkan. Dibutuhkan sebuah pendekatan komprehensif untuk merendahkan tingginya mercusuar teknologi bagi para petani yang semakin terpuruk dengan kondisi perubahan iklim.

 

Sebuah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dan tata cara kehidupan serta proses perjalanan manusia, dirasakan mampu melakukan mediasi dalam penerapan teknologi pertanian bagi masyarakat Lombok Timur. Sebuah metode penelitian observasi partisipasi yang telah ditelaah dan dijalankan oleh Prof. Dra. M.A Yunita Triwardani Winarto, M.S, M.Sc.,Ph.D., seorang ahli Antropologi Universitas Indonesia telah mampu menjembatani penerapan teknologi pertanian dalam mengantisipasi perubahan iklim terhadap pola perilaku masyarakat Lombok Timur yang kini masih terus dijalankan melalui beberapa kelompok tani.

IMG_0240

Bersama Prof Yunita di Perkampungan Lombok Timur

Pendekatan antropologi yang dilakukan secara terus menerus banyak memberikan dampak positif bagi petani di Lombok Timur. Teknologi yang selama ini dianggap sebagai momok kini mulai didampingi. Apa yang telah dilakukan oleh tim Antropologi UI yang diketuai oleh Prof Yunita T. Winarto dan berkat dukungan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) petani lombok kini telah menerapkan teknologi pengukuran curah hujan pada lahan mereka masing-masing untuk bisa menentukan rencana tanam mereka pada musim berikutnya.

 

Teknologi melakukan pengamatan atas semua perubahan iklim dan melakukan pengukuran atas perubahan sifat alam itu dan ilmu sosial yang memahami perilaku manusia menjadi jembatan atas penerapan teknologi ini. Berkat pendekatan sosial, petani di Lombok Timur kini telah memiliki teknologi pengukuran curah hujan pada lahan mereka sendiri dan punya keputusan jitu untuk merencanakan jenis tanaman yang akan mereka tanam pada musim berikut. Iklim boleh bergejolak tapi teknologi jangan sampai ditolak.
FullSizeRenderMahmur Marganti, Lombok 20 Juli 2016

 

Kisah Pahit dari Parit Eropa: No Man’s Land

FILM
Enggak ada perang yang menyenangkan, bahkan life is beautiful yang dikemas dalam sebuah bentuk komedi pun kadang terasa pahit dan menyesakkan. Demikian pula dengan “No Man’s Land”.
Banyak film tentang perang, apapun gaya yang dipakai oleh para pembuatnya, selalu saja film-film perang itu akhirnya menghadirkan kisah kemanusiaan yang berakhir tragis, film ini diambil dari sebuah negeri korban konflik yang mengorbankan banyak jiwa. Perang Bosnia-Serbia adalah sebuah drama kemanusiaan yang meninggalkan luka dalam bagi perdamaian dunia.
Film yang udah gua tonton berkali-kali ini disutradarai oleh Danis Tanovic, pria kelahiran Zenica, Bosnia, 1969. Seorang insinyur sipil yang juga sekolah musik dan seni. “No Man’s Land” bukanlah film pertamanya, Danis Tanovic pernah menyutradarai beberapa seperti film pendek Your Lover Called, Dervishs dan sebuah film documenter A Year After, juga video klip B & H Army.
Sebuah film yang skenarionya juga ditulis oleh Danis Tanovic ini, berkisah tentang tiga orang serdadu Bosnia-Serbia. Dua orang dari pihak Bosnia, Ciki (Branko Djuric) dan Cera (Filip Sovagovic), satu orang lagi, Nino (Rene Bitorajac) adalah tentara Serbia. Ketiganya secara tidak sengaja bertemu di sebuah parit perlindungan yang terletak di antara kedua wilayah yang bertikai.
Pertemuan ketiganya menghadirkan sebuah cerita yang pahit dan mengharukan. Mereka adalah orang-orang yang dikorbankan: representasi kisah pahit dan suram sebuah peperangan. Perang telah menghancurkan rasa kemanusiaan mereka, kebencian antar sesama ras yang bertikai dianggap sebagai penyebab terjadinya semua bencana itu. Kepercayaan pada pihak luar pun, PBB dalam hal ini, semakin pupus. Pihak yang bertikai seolah dibiarkan menyelamatkan sendiri nyawa mereka masing-masing.
Dalam keadaan yang sangat memilukan itu, para jurnalis televisi yang diharap bisa mengurangi ketegangan justru malah membuat keadaan semakin buruk dengan menangguk keuntungan dari konfilk ini. Di parit itu, Cera tengah terancam jiwanya. Di bawah tubuhnya terdapat ranjau. Pasukan PBB yang datang ke lokasi dengan ahli penjinak ranjau tidak mampu menjinakan ranjau ini. Dengan sangat terpaksa mereka harus meninggalkan Cera sendiri bersama ranjau yang siap meledak di bawah tubuhnya. Sementara itu Ciki dan Nino telah lebih dulu tewas dalam sebuah baku tembak yang gagal dihalang-halangi oleh pasukan PBB. Tak pernah ada pemenang yang sesungguhnya dalam perang.
Film produksi tahun 2001 ini berhasil mendapat penghargaan Golden Globe tahun 2002 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik dan Skenario Terbaik dalam Festival Film Cannes 2002. artikel ini juga dimuat di http://movietraxx.com/content/no-mans-land

Yuk ke Moyo

TRAVEL

Berada pada sisi utara Sumbawa sejauh 2.5 km, pulau yang  mendadak terkenal seantero jagad lantaran pernah disambangi Lady Diana tanggal 16 Agustus 1993 selama tiga hari dua malam ini terbilang sangat mudah dijangkau.

Dari Dermaga Goa, Labuan Badas, sisi terdekat Sumbawa ke Pulau Moyo,  hanya membutuhkan waktu 20 menit dengan menggunakan speed boat Bintang Moyo Travel. Jasa ini adalah yang paling sering mengantar tamu-tamu lokal maupun mancanegara ke Pulau Moyo. Dengan tarif tiga juta rupiah pulang pergi untuk 10 penumpang, melakukan perjalanan berjamaah ke Moyo akan lebih murah dan hemat.

Selain pakai boat, you guys yang mau merasakan ambience perjalanan laut bersama penduduk Moyo yang lalu lalang ke Sumbawa, Bintang Moyo juga menyediakan fasilitas transportasi umum dengan kapal berukuran besar, tentu dengan tarif yang lebih murah. eh tapi inget, rasanya untuk hari jumat ngga ada perjalanan dari dan ke Moyo dengan kapal kayu, cek dulu ajah sebaiknya. biar ngga lupa tulis sekarang deh nomor telepon bintang moyo travel, +6285205111611

_MG_1188

boat Bintang Moyo yang gua tumpangi ini kayaknya berkecepatan 50 knot deh, konon sering menang lomba nih di Gili Trawangan

Demi alasan kenyamanan perjalanan di Moyo, mintalah pihak Bintang Moyo untuk mengatur itenerary dan fasilitas selama di Moyo, mereka adalah para pemuda asli Pulau Moyo yang gencar melakukan promosi dan kemudahan kepada siapa pun yang ingin berkunjung ke Moyo. Dengan senang hati mereka akan membantu menyiapkan guess house, konsumsi, berkeliling ke berbagai objek wisata, hingga snorkling di Moyo.

 

_MG_1192

Semacam kantor sementara Bintang Moyo di Dermaga Labuan Aji, masih dalam renovasi

Air Terjun Mata Jitu

bayangin deh ada di tempat ini terus denger gemersik air terjun itu, endah banget guys

Butuh waktu kurang lebih satu jam dari Labuan AJi, dermaga di Pulau Moyo, menuju air terjun ini. Lokasi ini lah salah satu yang dikunjungi almarhumah Lady Diana waktu itu.

_MG_1214

Menuju lokasi ini hanya bisa ditempuh dengan menggunakan ojek motor,  itu pun ngga sampai langsung ke titik air terjun, you guys kudu jalan kaki sejauh kurang lebih setengah kilo meter, motor yang kita tumpangi tidak bisa menjangkau lokasi air terjun ini sebab curam dan banyak akar-akar pohon yang menjulur ke jalan. mungkin itu salah satu

kenapa area ini begitu terjaga keasriannya: tidak ada asap knalpot di area Mata Jitu.

 

_MG_1242

jalan di jembatan yang terbuat dari ranting ini seperti dongeng kisah putri salju dan 7 kurcaci saat mereka pulang dari hutan

Di area yang masih disebut Mata Jitu itu, kita masih bisa menelusuri spot menarik lain, guide yang mengantar gua waktu itu menyebut tempat ini juga bernama Mata Jitu, aneh ya, ada dua air terjun, dua duanya sama-sama bernama Mata Jitu, ah biarin lah. emang keren lah dua-duanya

t_MG_1254

tuh guys, air terjun kedua, keren banget kan!!

Sumber air mata jitu yang berasal dari balik bebatuan besar tidak jauh dari air terjun Mata Jitu menghasilkan air sangat bening. Aliran saluran air yang dilalui menuju tempat yang lebih rendah bagaikan kaca, gua sampai bisa bercermin!!! (ngga penting haha)  pasir pada dasar airnya juga terlihat jelas, ngga ada sedikitpun kotoran mengambang apalagi sampah yang dihasilkan manusia di area ini, adanya hanya dadaunan dan ranting pohon tua yang jatuh.

_MG_1261

 

Dawu Mbha’i

_MG_1267 copy

gua sih sempet nyoba tuh gelantungan di tali itu, berhubung bobot gua sedikit lebih berat dari anak-anak itu, yaa cukup sekali ajah lah

No Gadget mereka tetep happy

Usai menghabiskan banyak waktu di Air Terjun Mata Jitu, sang guide udah tahu destinasi berikutnya. Dengan waktu tempuh setengah jam pakai motor, lokasi menarik lain adalah Dawu Mbha’i. Menurut bahasa lokal kata ini bermakna danau buaya, tempat semacam ‘water park’ yang banyak dikunjungi anak-anak lokal ini mengundang banyak perhatian. Aktifitas bermain air mereka yang sarat keberanian dijamin membuat berdecak melihatnya, bukan cuma aktifitas lompat dan naik melalui akar pohon, yang tidak kalah menarik adalah gaya mereka bergelantungan dan canda diantara mereka pada seutas tali dijamin bikin iri dengan kebahagiaan itu.

_MG_1217

Datang dan nikmati Moyo!